Awal Mula Munculnya Istilah Salafiyah

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi wa shohbihi wa man walah, wa ba’d. Menurut bahasa kata as-salaf berarti zaman sebelumnya atau zaman dahulu. Sedangkan secara istilah Salafiyah kata as-salaf bermakna tiga abad Islam yang pertama. itulah Istilah Salafiyah dari segi bahasa,  Hal ini didasarkan pada hadits nabi Muhammad SAW, khoirunnasi qorni, tsummalladziina yalunahum, tsummaladziina yaluunahum. (HR Bukhori, Muslim), artinya: “manusia yang terbaik adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya dan zaman setelahnya”.

Istilah as-salafiyah dipahami dengan keliru oleh orang-orang yang mengaku sebagai salafi -khususnya pada zaman ini-. Bahkan mereka menyatakan bahwa merekalah satu-satunya kelompok yang mewarisi manhaj para ulama salaf, dan tidak ada salafi selain mereka.

Mereka adalah sebagian kecil dari umat Islam di seluruh dunia. Dan karena anggapan mereka bahwa merekalah satu-satunya yang mewarisi ulama salaf, maka ulama-ulama yang berada diluar kelompoknya -yang banyak tersebar di seluruh penjuru dunia- dianggap sebagai ahli bid’ah. Bahkan mereka tega menuduh ulama sebagai orang kafir hanya karena berbeda pendapat dengan mereka dalam permasalahan fiqih cabang yang jumlahnya sangat sedikit.

Di sini kami akan berusaha menjelaskan awal mula munculnya istilah salafiah dan sejarahnya, dan mengapa ada sekelompok orang yang memakai istilah ini untuk menyebutkan diri mereka. Namun sebelumnya kami ingin mengingatkan bahwa kelompok ini adalah orang-orang yang gemar menuduh muslim lainnya dengan sebutan ‘pengikut hawa nafsu’, ‘ahli bid’ah’, ‘menyimpang’, ‘sesat’, ‘kafir’, dan sebutan-sebutan buruk lainnya.

AWAL MULA MUNCULNYA ISTILAH SALAFIAH

Istilah salafiyah pertama kali muncul di Mesir pada masa penjajahan Inggris, dimana tokoh pembaharu Islam yang bernama Jamaludin al-Afghani dan Muhammad Abduh menyerukan istilah ini kepada rakyat Mesir. Pada saat itu di negara mesir masih banyak terdapat bentuk-bentuk kesyirikan, tahayul, khurafat dan perbuatan bid’ah lainnya.

Rakyat Mesir pada saat itu terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama ingin mengajak orang-orang agar mengikuti penjajah dan kebudayaan barat, lalu meninggalkan budaya nenek moyangnya, termasuk segala hal yang berkaitan dengan Islam dan pemikirannya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah mereka yang ingin menyelesaikan permasalahan umat dengan cara mengajak orang-orang untuk kembali kepada Islam yang murni, yang suci dari berbagai macam penyakit khurafat, perbuatan syirik, dan bid’ah lainnya, tetapi tidak kemudian meninggalkan peradaban modern yang dihasilkan dari perkembangan zaman.

Jamaludin al-Afghani dan Muhammad Abduh adalah para tokoh yang mewakili kelompok yang kedua. Merekalah yang pertama kali memunculkan istilah salafiah dengan tujuan mengembalikan umat Islam pada Islam yang terbebas dari berbagai macam khurofat dan tahayyul, yaitu Islamnya para ulama salaf yang harus dicontoh oleh seluruh kaum muslimin dalam hal cara berfikir, prilaku, dan jalan hidup mereka.

Istilah salafiah pada awal munculnya bukanlah nama sebuah madzhab dalam agama Islam. Akan tetapi salafiah adalah sesuatu yang menjadi fokus dakwah yang bertujuan untuk memperkenalkan manhaj yang benar yang bertentangan dengan perbuatan takhayul dan khurofat yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Istilah salafiah hanya menjadi materi pidato yang menerangkan bahwa para ulama salaf adalah orang-orang yang bisa mengaplikasikan ajaran agama Islam dengan baik dan benar, sebagaimana ajaran para sahabat dan tabi’in.

Kemunculan istilah salafiah di Mesir ini bersamaan dengan gerakan madzhab wahabi yang berafiliasi kepada Muhammad bin Abdil Wahab -yang banyak tersebar di Najed dan beberapa wilayah di jazirah Arab-. Dua gerakan ini sama-sama sedang memerangi khurafat, tahayul, perbuatan syirik dan bid’ah di wilayahnya masing-masing. Dan pada akhirnya istilah salafiah ini tersebar luas ke berbagai penjuru dunia dan didengar oleh kaum wahabi di Arab Saudi. Seiring dengan berjalannya waktu, kaum wahabi yang sebelumnya menyebut dirinya dengan ‘wahabiyah’, akhirnya mengganti namanya menjadi ‘salafiah’.

Hal ini karena orang-orang wahabi menganggap bahwa madzhab dan pemikiran mereka tidak hanya berhenti pada Muhammad bin Abdul Wahab, tetapi sampai kepada madzhab ulama salaf. Penamaan ini bertujuan untuk meyakinkan umat Islam bahwa madzhab wahabi yang mereka sebarkan itu bersumber dari manhaj dan pemikian ulama salafus sholih. Inilah penyalahgunaan istilah salafiah oleh kaum wahabi.

Istilah salafiah yang semula dipakai untuk mengajak rakyat Mesir menuju pada Islam yang bersih dari khurafat dan tahayul, berubah dipakai untuk sebuah madzhab dan kelompok yang mengaku-aku bahwa merekalah yang paling benar -yang hanya satu-satunya kelompok yang mengikuti ulama salaf-. Sedangkan kelompok lainnya yang berbeda manhaj dan pemikiran dengan mereka dianggap sebagai penganut bid’ah, syirik, dan kafir.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: