Membaca Al-Quran Dengan Berjama’ah, Apakah Bid’ah?

Bismillah, walhamdulilah, wassholaatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi wa shohbihi wa man walah, wa ba’d. Salah satu jenis ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah perintah untuk membaca al-Qur’an. Firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir: 29).

Berkumpulnya umat muslim untuk membaca al-Qur’an dengan bersama-sama termasuk bentuk tolong-menolog dalam kebaikan. Nabi Muhammad SAW bersabda, majtama’a qoumun fi baitin min buyutillah, yatluuna kitaballahi, wa yatadaarosuunahu bainahum, illa nazalat ‘alaihimussakinah waghosyiyathumurrohmah wa haffathumul malaikah, wa dzakarohumullahu fiiman ‘indah (HR Bukhori, Muslim), artinya: “tidak ada suatu kaum yang berkumpul di dalam masjid untuk membaca al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh malaikat, dan Allah akan menjadikan mereka sebagai kekasih-Nya”.

Berkumpul dalam rangka membaca al-Qur’an dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan cara bergantian membacanya satu-persatu. Ini termasuk perbuatan yang baik, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan, “membaca al-Qur’an secara bergilir itu baik menurut sebagian besar ulama”. (al-fatawa al-kubro). Cara lainnya dapat dilakukan dengan membaca ayat yang sama secara bersama-sama. Perbuatan ini disyareatkan di dalam Islam dengan landasan keumuman dalil yang menunjukkan kesunahan membaca al-Qur’an. Dalil-dalil itu diantaranya Firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir: 29).

Sabda nabi Muhammad SAW, iqro’ul qur’aana, fa innahu ya’ti yaumal qiyaamati syafii’an li ashhaabih (HR Muslim), artinya: “bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang sebagai penolong untuk para pembacanya di hari kiamat”, dan masih banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan kesunahan membaca al-Qur’an.

Apabila Allah memerintahkan suatu hal secara umum atau mutlak, maka perintah itu harus diartikan dengan maknanya secara umum. Kita tidak boleh mengkhususkan perintah yang bersifat umum melainkan dengan dalil yang jelas. Jika ada seseorang yang telah dikuasai oleh hawa nafsu, lalu mengkhususkan suatu perintah umum tanpa dalil, maka perbuatan ini termasuk bid’ah yang dilarang oleh agama, karena ia telah mempersempit sesuatu yang dilapangkan Allah dan Rasul-Nya.

Sementara perbuatan nabi Muhammad yang melakukan suatu perintah yang umum dengan cara dan pilihan nabi sendiri bukanlah pengkhusus atas keumuman dalil itu, selama nabi Muhammad tidak melarang cara-cara yang lain. Dan inilah yang sering dikatakan oleh para ahli ushul fiqih, at-tarku laisa bihujjah (apabila nabi meninggalkan suatu perbuatan, bukan berarti nabi melarang perbuatan itu). Dan ungkapan di atas merupakan kaidah yang telah disepakati oleh semua ulama salaf dan kholaf.

Para ulama madzhab Syafi’i dan madzhab Hambali telah menyatakan kesunahan membaca al-Qur’an secara berjamaah. Sebagaimana dikatakan oleh imam an-Nawawi, “ketahuilah bahwa membaca al-Qur’an dengan berjama’ah hukumnya sunnah dengan berlandaskan pada dalil-dalil yang jelas, dan perbuatan para ulama salaf dan kholaf. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud bahwasanya Aba Darda’ rodliyallahu ‘anh membaca dan mempelajari al-Qur’an bersama dengan banyak orang. Dan ini adalah perbuatan yang berlandaskan ijma’/kesepakatan sebagaian besar ulama salaf dan kholaf. (at-tibyaan fii adabi hamlatil qur’an).

Diriwayatkan dari Muawiyah rodliyallahu ‘anh bahwa nabi Muhammad SAW melihat para sahabat yang duduk-duduk membuat suatu lingkaran. Kemudian nabi berkata, “apa yang membuat kalian duduk?”, mereka menjawab, “kami duduk-duduk untuk mengingat dan memuji-muji Allah, karena Allah telah memberikan hidayah Islam kepada kami. Nabi berkata, “benarkah kalian tidak berkumpul kecuali untuk itu”, “iya wahai nabi!, kami tidak berkumpul kecuali untuk itu”, lalu nabi berkata, “sesungguhnya Jibril baru saja mendatangiku dan memberitahuku bahwa Allah membangga-banggakan kalian dihadapan para Malaikat”. (HR Muslim).

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa berkumpul untuk membaca al-Qur’an dengan satu suara, atau bergiliran satu-persatu termasuk bentuk kebaikan, karena di dalamnya ada unsur tolong-menolong antar saudara sesama muslim. Namun ulama madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa hukumnya makruh (al-fatawa al-hindiyah, syarkh mukhtashor al-kholil). Akan tetapi pendapat di atas tidak memiliki dalil yang kuat, karena pendapat ini bertentangan dengan pendapat dan praktek yang telah dilakukan oleh mayoritas ulama salaf dan kholaf sepanjang masa.

Boleh, apabila kita memasukkan permasalahan ini kedalam masalah khilafiah (perbedaan pendapat), sehingga kita tidak boleh mengingkari orang yang berpendapat bahwa perbuatan ini hukumnya makruh. Dan pendapat ulama yang menjadi fatwa kami adalah membaca al-Qur’an secara bersama-sama dengan satu suara itu hukumnya sunnah. Dan hal yang terpenting yang tidak boleh dilupakan oleh seorang muslim adalah tadabbur dan khusu’ ketika sedang membaca al-Qur’an. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: