Mencintai Rasulullah Dengan Bershalawat

Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai Rasulullah SAW. Orang yang paling dekat dengan Rasulullah di akherat kelak adalah orang yang paling mencintai Rasulullah SAW. Keistimewaan sahabat Abu Bakar yang melebihi sahabat-sahabat yang lain karena kecintaannya yang paling besar kepada Rasulullah SAW.

Cinta membutuhkan bukti. Apabila kita melihat seseorang sering menyebut-nyebut sesuatu maka dapat diketahui bahwa ia mencintai sesuau yang dikatakannya. Dan apabila kita melihat orang yang sering menyebut-nyebut nama Muhammad SAW, pasti ia orang yang mencintainya.

Rais ‘Am Jam’iyah Ahlut Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah, sekaligus Ketua Umum Thariqah Sufi se- Indonesia, Maulana Al-Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan, menjelaskan perihal rahasia dibalik bacaan Shalawat Allah kepada nabi-Nya.

Al-Habib Luthfi berkata, “saya kagum terhadap satu ayat yang mengangkat kebesaran Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan untuk membaca shalawat,” kemudian beliau membacakan ayat Al-Quran yang berisi perintah untuk bershalawat kepada nabi Muhammad SAW,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)

Beliau berkata dalam bahasa Jawa, “yen Allah ta’ala merintahake shalat, ning mustahil Allah shalat. Allah ta’ala merintahake zakat, Allah ta’ala mboten usah zakat. Allah ta’ala merintahake haji neng Alah ta’ala mboten haji. Tapi nek shalawat Nabi, Allah ta’ala paring shalawat dumateng Kanjeng Nabi. Niku bedane adoh, niku istimewane kebesarane shalawat.”

(Allah telah memerintahkan shalat tetapi Allah mustahil shalat, Allah memerintahkan zakat tetapi Allah tidak zakat, Allah memerintahkan haji tetapi Allah tidak haji. Namun kalau shalawat Nabi, Allah bershalawat kepada Baginda Nabi SAW. Itulah tingkat perbedaan yang sangat jauh, menunjukkan keistimewaan dan keagungan shalawat).

Beliau melanjutkan, “kenapa redaksi pada ayat memakai ‘ala an-Nabiy’, bukan ‘ala Muhammad’?, karena yang dijunjung oleh Allah adalah pangkatnya Kanjeng Nabi SAW. Allah SWT memberikan contoh langsung kepada hamba-Nya tentang bagaimana memberikan penghargaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan tidak mengucapkan namanya saja (Muhammad), akan tetapi dengan pangkatnya. Tidak ada satupun ayat dalam Al-Quran, Allah memanggil Nabi Muhammad dengan namanya saja.

Sedangkan kalimat ‘yushalluna ‘ala an-nabiy’, bukan menggunakan kalimat madhi (masa lampau) tetapi mudhari’ (masa sekarang dan seterusnya). Artinya rahmat Allah SWT kepada Kanjeng Nabi sampai besok di akherat. Dan shalawatnya Allah Ta’ala bukan ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad’, tetapi rahmatan maqrunatan bita’dzimin (rahmat kasih sayang yang dibarengi dengan pengagungan). Maksudnya, Allah memberi shalawat kepada Nabi bukan sejak beliau diangkat menjadi Nabi, tetapi sudak sejak zaman azali.

Ayat itu juga merupakan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yang membedakan beliau dengan makhluk yang lain. Segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak diciptakan percuma, semuanya memiliki kelebihan tersendiri -yang membedakan satu dengan yang lain-. Maka tidak mustahil kalau Allah memberi kemuliaan (perintah shalawat) ini kepada Kanjeng Nabi SAW.

Kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW merupakan kewenangan Allah. Jangankan untuk memuliakan nabi, bahkan setiap tumbuhan dan segala sesuatu diciptakan Allah dengan kemuliaannya masing-masing, Yen Allah Ta’ala ngersaake niku mboten onten seng mustahil, serba mungkin (Jika Allah telah menghendaki, maka tidak ada yang mustahil, semuanya serba mungkin).

Ketika kita mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW, maka akan timbul cinta kepada beliau SAW. Dengan demikian, kita akan semakin banyak melakukan sunnah-sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW”

Mari kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Allahumma Shalli Wasallim Wa baarik ‘Alaihi Wa ‘Alaa ‘Aalih.

Berbagai sumber

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: