Berhijrah Dari Alam Menuju Pencipta Alam (Hikmah Ke-Empatpuluh dua)

لاَ تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُوْنَ كَحِمَارِ الرَّحَا يَسِيْرُ وَالَّذِى ارْتَحَلَ إِلَيْهِ هُوَ الَّذِى ارْتَحَلَ مِنْهُ. وَلَكِنِ ارْحَلْ مِنَ الْأكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ، وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى. واْنْظُرْ إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِه، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى الدُّنْيَا يُصِيْبُهَا أوْ إِمْرَأةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. فَافْهَمْ قَوْلَهَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَتأمَّلْ هَذَا الْأَمْرَ إِنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ

Janganlah engkau berhijrah dari alam menuju alam, maka engkau seperti himar yang kebingungan -karena ia telah pergi ke suatu tempat, tetapi kembali lagi ke tempat semula-. Akan tetapi berhijrahlah dari alam menuju pencipta alam. Dan kepada tuhanmulah hendaknya engkau menuju.

Bacalah sabda nabi muhammad saw, “barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya, maka ia akan sampai kepada Allah dan Rasul-nya. Tetapi barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan sampai pada tujuan hijrahnya”. Pahamilah sabda nabi ini dan renungkanlah, jika engkau memang orang yang memiliki pemahaman yang tajam.

Janganlah engkau meminta balasan atas amal soleh yang telah engkau kerjakan meskipun itu balasan akherat. Sesungguhnya akherat itu bagian dari alam sebagaimana dunia, dan semua alam itu hakekatnya sama saja dalam hal menipu manusia.

Akan tetapi mintalah wajah (baca: ridlo) Allah yang menciptakan seluruh alam. Beribadahlah kepada Allah karena melaksanakan kewajiban sebagai hamba dan memenuhi hak-hak Allah sebagai Tuhan yang pantas disembah, agar engkau mendapatkan maqom orang-orang ma’rifat yang tidak pernah berniat untuk mencari pahala, tetapi mereka tenggelam dalam kenikmatan memandang wajah Allah yang mulia. Sehingga mereka akan mendapatkan ikhlas yang timbul dari tauhid yang khusus.

Adapun orang yang telah mampu keluar dari sifat riya’ tetapi ia masih mencari pahala, maka ia termasuk golongan orang-orang yang berpindah dari alam menuju alam. Orang ini diibaratkan seperti himar yang kebingungan yang menuju ke suatu tempat lalu kembali lagi ke tempat semula.

Jadi meskipun secara dzohir ia telah berpindah tetapi pada hakekatnya ia tidak berpindah, karena ia kembali lagi ke tempat semula. Bacalah sabda nabi Muhammab SAW, “sesungguhnya suatu amalan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang memiliki niat masing-masing. Barangsiapa yang hijrahnya (baca: niat)nya untuk Allah dan Rasulullah, maka ia akan sampai kepada Allah dan Rasulullah”.

Yang dimaksud dengan hijrah kepada Allah dan Rasulullah adalah bahwa hatinya telah meninggalkan kecintaannya pada alam (dunia dan akherat) dan menuju kecintaan akan ridlo Allah ta’ala -dan inilah yang diminta oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya-. Adapun maksud dari berhijrah kepada dunia dan wanita adalah hatinya masih terpaut dan mencintai alam -dan ini dilarang-.

Syekh Abdul Majid, Syarhu Kitabil Hikam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: