Bagaimana Hukum Musik Di Dalam Islam?

Musik merupakan salah satu permasalahan yang menjadi perselisihan diantara para ulama ahli fiqih. Musik tidak termasuk permasalahan aqidah, 0leh karena itu hendaknya kaum muslimin tidak saling bermusuhan karena perbedaan dalam masalah ini. Selama ada ulama ahli fiqih yang memperbolahkan musik, maka kita boleh mengikutinya. Jangan sampai umat Islam mengharamkan hal ini, karena tidak ada nash al-Qur’an maupun al-Hadits yang menyatakan keharamannya.

Jadi, Apa Hukum Musik Di Dalam Islam ?

Diantara ulama yang membolehkan alat musik adalah Imam al-Ghozali. Beliau mengatakan bahwa musik dapat menjadi obat bagi hati yang gundah, maka hukumnya mubah (boleh). Namun bermusik tidak boleh terlalu banyak, sebagaimana tidak boleh terlalu banyak meminum obat, karena akan menimbulkan bahaya.

Bermusik, apabila bertujuan untuk menghilangkan kegundahan dan membangkitkan semangat maka sangat dianjurkan. Barang siapa yang hatinya tidak bergerak untuk melakukan hal yang baik, maka ia boleh digerakkan dengan musik. Akan tetapi orang yang sempurna adalah orang yang tidak membutuhkan segala sesuatu selain Allah untuk menjadikan dirinya bersemangat. (al-furu’, Ibnu Muflih).

Imam al-Ghozali juga mengatakan bahwa alat musik yang menjadi syiar dan tanda orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan minum komr seperti drum, seruling, gitar, dan genderang itu dilarang. Dan semua alat musik selain itu termasuk dalam kategori mubah.

Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa lagu dan musik adalah pelajaran dan hikmah bagi orang yang dapat menangkap dan memahami isyaroh (petunjuk). Diantara ahli ilmu itu adalah al-Qodli ‘Iyadl as-Syibli. Beliau pernah ditanya mengenai hukum mendengarkan music, lalu beliau mengatakan bahwa secara dzohir musik itu fitnah, namun secara batin musik adalah pelajaran dan hikmah.

Barang siapa yang dapat memahami isyaroh dan mengambil hikmah, maka halal baginya untuk mendengarkan music. (at-tajj wal iklill, al-abdari al-maaliki).

Al‘allaamah ‘Iz bin Abdissalam mengatakan bahwa menyanyikan lagu dengan alat dapat menjadi jalan utuk memperbaiki hati. Beliau mengatakan bahwa cara untuk memperbaiki hati dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan mendengarkan al-Qur’an -ini adalah cara yang paling baik-, dengan mendengarkan peringatan dan ancaman, dan adakalanya dengan mendengarkan lagu-lagi Islam, dan alat music. (at-taj wal ikliil, ‘abdari al-maaliki).

Imam al-Qurthubi menukil dari kitab al-jami’ liahkaamil qur’an, beliau berkata, Imam al-Qushairi berkata, “sayyidina Abu Bakar melarang orang-orang Madinah yang menyambut kedatangan nabi dengan alat musik rebana, lalu nabi berkata kepadanya, “biarkan wahai Abu Bakar!, agar orang-orang yahudi mengetahui bahwa agama kita itu toleran”.

Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa menggunakan alat musik pukul seperi rebana dan semisalnya dalam acara pernikahan hukumnya boleh asalkan tidak menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan syareat Islam. (tafsir al-Qurthubi).

Ibnu Hazm berkata, Rasulullah SAW bersabda, innamal a’malu bin niyaah (HR Ahmad dan Bukhori), artinya: “sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya”. Barang siapa yang mendengarkan musik dengan niat untuk melakukan perbuatan maksiat, maka hal itu termasuk perbuatan fasiq.

Sebaliknya orang yang mendengarkan musik dengan maksud untuk membangkitkan semangat beribadah kepada Allah maka hukumnya menjadi sunnah. Dan barang siapa yang mendengarkan musik dengan tanpa niat untuk maksiat atau taat, maka hal itu termasuk dalam kategori permainan yang dibolehkan dalam agama -sama seperti hukum orang yang pergi ke kebun untuk bersantai dan menikmati keindahan”. (al-mukhalla) .

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa menyanyikan lagu dengan menggunakan alat musik atau tanpa musik merupakan permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama. Mereka bersepakat dalam hal tertentu dan berselisih dalam hal tertentu. Mereka sepakat untuk mengharaman setiap nyanyian yang mengandung unsur kemaksiatan, kefasikan, dan segala hal yang dapat membangkitkan kejahatan. Lirik lagu itu serupa dengan perkataan.

Oleh karena itu nyanyian yang baik hukumnya sama dengan perkataan yang bagus, dan nyanyian yang buruk sama hukumnya dengan perkataan yang buruk. Dan setiap perkataan yang mengandung keharaman adalah haram.

Para ulama telah bersepakat mengenai kebolehan suatu nyanyian yang tanpa diiringi alat musik, karena hal ini termasuk dalam kategori ungkapan dan ekspresi kesenangan manusiawi yang dibolehkan di dalam agama islam -sama seperi yang terjadi dalam perayaan walimatul ursy dan hari raya-. Akan tetapi kaum perempuan disyaratkan tidak boleh bernyanyi dan bersuara keras di hadapan laki-laki yang bukan mahromnya.

Adapun lagu yang diiringi dengan alat musik sudah kita paparkan di atas. Dan kami berpendapat bahwa nyanyian itu hukumnya boleh, baik itu diiringi dengan alat musik atau tidak. Namun disyaratkan tidak mengundang ke arah maksiat atau menghilangkan makna kebolehannya secara syar’i.

Apabila perbuatan itu dilakukan dengan berlebihan, maka dapat mengeluarkan pelakunya dari batas kebolehan dan membawanya kepada batas kemakruhan, dan bahkan dapat mengarah pada perbuatan haram. Wallah ta’ala a’law wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: