Bagaimana Hukum Meninggalkan Shalat

Hukum meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban shalat

Orang yang meninggalkan shalat, jika ia mengingkari perintah shalat maka dinamakan kafir dengan berlandaskan pada ijma’ (kesepakatan para ulama). Imam Nawawi berkata, “jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari perintah atau kewajiban shalat, maka ia adalah orang kafir dan murtad berdasarkan ijma’ (kesepaatan) umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan”. (al-majmu’, an-Nawawi).

Hukum orang yang meninggalkn shalat karena malas

Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bagi orang yang meninggalkan shalat karena malas, namun ia percaya bahwa shalat hukumnya wajib. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ia juga termasuk kafir, dan ini adalah pendapat Ali bin Abi Tholib (nailul author), pendapat imam Ahmad (khasyaful qona’), dan pendapat sebagian pengikut imam Syafi’i (al-majmu’). Pendapat ini berlandaskan firman Allah,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. (QS. At-Taubah: 11).

Sesungguhnya Allah SWT meniadakan persaudaraan antara umat Islam dan umat musyrik dengan pelaksanaan shalat. Barangsiapa yang tidak mengerjakan shalat maka dia bukan saudara kita. Dalil lainnya, sabda nabi Muhammad SAW, bainar rojuli wa bainnassyirki wal kufri, tarkus sholah (HR Muslim, Abu Dawud), artinya: “perbedaan seorang muslim dengan orang yang berbuat syirik dan kafir adalah dalam hal meninggalkan shalat”.

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat adalah tanda yang membedakan antara orang Islam dengan orang kafir. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka ia telah berpindah agama dan keluar dari agama Islam.

Madzhab Maliki, Syafi’i, dan mayoritas ulama salaf dan kholaf telah berpendapat bahwa ia tidak kafir, tetapi ia hanya fasiq dan diminta untuk bertaubat. Jika ia mau bertaubat maka ia tidak dibunuh. Imam Abu Hanifah, sebagian penduduk Kufah, dan al-Muzani mengatakan bahwa ia tidak kafir dan ia tidak dibunuh, tetapi ia harus dihukum dan dipenjara sampai ia mau melakukan shalat. Dalil yang mereka jadikan landasan adalah firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang berbuat syirik dan mengampuni dosa selain syirik. (QS. An-Nisa’: 48).

Ayat di atas menjelaskan bahwa satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT adalah dosa syirik, sedangkan dosa selain syirik akan diampuni oleh Allah. Dan meninggalkan shalat karena malas tanpa adanya pengingkaran terhadap kewajiban shalat adalah dosa yang bukan termasuk syirik.

Dalil yang menjadi landasan tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas adalah riwayat dari Ubadah bin Shomit, beliau berkata, “aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, lima shalat yang diwajibkan atas hamban-Nya. Barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak meningggalkannya karena meremehkannya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.

Barangsiapa yang tidak mengerjakannya, maka terserah Allah apakah Ia akan memasukkannya ke dalam surga atau akan menyiksanya”. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i). Kalimat ‘terserah Allah apakah Ia akan menyiksanya atau memasukkannya ke dalam surga’ adalah dalil bahwa orang yang meninggalkan sholat itu tidak kafir, karena orang yang kafir tidak akan masuk surga. Oleh karena itu orang islam masih mewarisi ayahnya yang meninggalkan shalat, dan ia juga mendapatkan harta warisan dari sanak famili yang meninggalkan shalat. Apabila orang yang meninggalkan shalat dianggap kafir, maka ia tidak bisa memberi atau menerima warisan dari orang Islam.

Imam an-Nawawi berkata, “barang siapa yang meninggalkan shalat dengan tidak mengingkari kewajibannya maka terbagi menjadi dua. Yang pertama meninggalkan shalat karena ‘udzur -seperti tidur, lupa, dan yang semisalnya- maka ia wajib untuk mengqodlo’, dan tidak ada dosa atasnya. Dan yang kedua orang yang meninggalkan shalat tanpa ‘udzur, tetapi karena malas dan meremehkan. Maka ia berdosa dan wajib dibunuh jika terus-menerus meninggalkannya. Dan apakah ia menjadi kafir?, ada dua pendapat. Pendapat yang pertama ia kafir. Sedangkan pendapat yang kedua tidak kafir, dan pendapat ini yang dianggap benar karena merupakan pendapat mayoritas ulama”. (al-majmu’, an-Nawawi).

Dan pendapat yang kami jadikan sebagai fatwa adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu bukanlah orang kafir. Sesungguhnya menghukumi seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan bukti-bukti yang jelas untuk mengatakannya. Janganlah kita gemar menghukumi seseorang dengan julukan kafir tanpa adanya bukti-bukti yang terang.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ayyuma rojulin qola li akhihi, yaa kaafiru! fa qod ba’a biha ahaduhuma (HR Bukhori, Muslim), artinya: “barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya sesama muslim dengan sebutan yaa kafir (hai orang kafir!), maka yang menuduhnya telah kafir”.

Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban shalat telah keluar dari Islam. Sedangkan orang yang meninggalkan shalat karena meremehkan dan bermalas-malasan, ia berada dalam bahaya dan dosanya sangat besar. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, AL-Bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: