Hukum Tawasul, Berikut Dalil-Dalil Dari Al-Qur’an Dan Al-Haditsnya

Hukum Tawasul dari keempat madzhab adalah boleh, melakukan tawasul dengan nabi Muhamad SAW baik ketika nabi Muhammad masih hidup maupun setelah wafat. Akan tetapi Ibnu Taimiyyah membedakan antara tawasul yang dilakukan ketika nabi masih hidup dengan tawasul setelah wafatnya. Dan kami menganjurkan kepada umat Islam agar senantiasa berpegang kepada apa yang sudah disepakati oleh para ulama empat madzhab.

Adapun dalil-dalil yang dipakai oleh para ulama mengenai kebolehan melakuka tawasul adalah:

1. Dalil dari Al-Qur’an

a. Firman Allah, yaa ayyuhalladziina aamanut taqullaha wabtaghuu ilaihil wasiilah (wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah).

b. Firman Allah, ulaa ikalladziina yad’uuna yabtaghuuna ila robbihimul wasiilata ayyuhum aqrobu wa yarjuuna rohmatahuu, wa yakhoofuuna ‘dzaabah. Inna ‘adzaaba robbika kaana makhdzuuro (orang-orang yang berdo’a kepada Allah, sesungguhnya mereka sedang mencari jalan kepada Allah. Siapakah diantara mereka yang lebih dekat kepada-Nya. Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Dan sesungguhnya adzab Allah itu sesuatu yang harus ditakuti).

c. Firman Allah, wa lau annahum izd dzolamuu anfusahum jaa’uuka fastaghfaruullaaha wastaghfaro lahumur rasuula lawajadulloha tawwabar rokhiiman (apabila mereka mendzolimi diri mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad), kemudian mereka memohon ampunan kepada Allah, dan rasul memintakan ampunan untuk mereka. Maka mereka akan mendapati bahwa Allah itu maha menerima taubat dan maha penyayang).

Pada ayat yang pertama Allah memerintahkan kepada kita agar bertawasul kepada-Nya dengan berbagai macam ibadah. Dan bertawasul dengan nabi Muhammad di dalam do’a termasuk bagian dari jenis ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Dan tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan adanya pengkhususan wasilah. Perintah wasilah bersifat umum yang mencakup berbagai macam bentuk dan praktek ibadah yang sudah ditentukan dalam syareat Islam.

Adapun pada ayat yang kedua, Allah ingin memuji orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya melalui perantara do’a, dan kami akan menjelaskannya nanti dalam pembahasan tata cara bertawasul dengan do’a yang diambil dari hadits nabi.

Sedangkan ayat yang ketiga menjelaskan mengenai perintah Allah agar seorang mukmin mendatangi nabi Muhammad lalu memohon ampunan kepada Allah melalui perantara nabi, karena hal itu akan lebih memungkinkan untuk diterima. Dan ayat ini tetap akan berlaku sampai nanti hari kiamat meskipun nabi Muhammad telah meninggal dunia.

2. Dalil dari Al-Hadits

a. Dari Utsman bin Hanif, beliau berkata, ‘ada seorang lak-laki yang buta matanya mendatangi nabi Muhammad SAW lalu berkata, “wahai nabi! berdo’alah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku”, lalu nabi berkata, “jika engkau mau, aku akan berdo’a. Tetapi jika engkau mau bersabar, maka itu lebih baik bagimu”, orang itu berkata,  “berdoalah kepada Allah untuk kesembuhan mataku wahai nabi!”. Kemudian nabi memerintahkannya untuk berwudlu dengan baik lalu berdo’a dengan do’a ini, allhumma inni as’aluka wa atawajjahu ilaikaa binabiyyika muhammadin nabiyyir rohmah. ya Muhammad, inni tawajjahtu bika ila robbi fii haajatii hadzihi litaqdi lii. Allahumma fasyaffi’hu fiyya

(ya Allah, sesungguya aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kapada-Mu dengan perantara Muhammad SAW, nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad! aku menghadap kepadamu untuk memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonanku. Ya Allah! berikanlah pertolongan untukku) (HR Ahmad, at-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

b. Ada seorang laki-laki datang kepada kholifah Utsman bin Affan, namun beliau tidak menghiraukannya karena ada urusan yang lebih penting. Lalu laki-laki itu bertemu dengan sahabat Usman bin Hanif. Orang itu kemudian mengadukan permasalahannya kepada Usman bin Hanif. Usman bin Hanif memerintahkan agar ia mengambil air wudlu lalu masuk ke masjid dan melakukan shalat dua rekaat.

Kemudian berdo’a kepada Allah dengan do’a ini, allahumma inni as’aluka wa atawajjahu ilaika binabiyyika muhammadin SAW nabiyyir rohmah. Ya Muhammad inni atawajjahu bika ila robbi fa taqdlhi lii haajatii. Lalu ia pergi. Tidak lama kemudian ia segera mendapatkan hajat dan kebutuhannya. Kemudian ia kembali dan segera menemui Usman bin Hanif, lalu ia berkata, “semoga Allah membalas budi baikmu”. Usman bin Hanif berkata, “aku pernah melihat ada seorang yang buta mendatangi Rasululah, lalu berdo’a dengan do’a itu dan Allah memberinya kesembuhan”. (HR Thobroni dan al-Baihaqi).

c. Hadist tentang keluar ke masjid untuk menunaikan shalat. Dari Abu Sa’id al-Khudri, dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, man qoola khiina yakhruju ilas sholaah, allahumma inni as’aluka bikhaqqissaailina ‘alaika wa bihaqqi mamsyaay, fainni lam akhruj asyarron,wa la bathron wa laaa riyaa’an wa laa sum’atan, khorojtuu ittiqoo a sukhtika wab tighoo’a mardlootik. As’aluka an tunqidzanii minan naar, wa’antaghfrirlii dzunuubi, innahuu laa yaghfirudzdzunuuba illa anta. Wakkalallahu bihii sab’iina alfi malikin yastaghfiruun lahu wa aqbalallahu ‘alaihi biwajhihi hatta yafrogh min sholaatih (barang siapa yang keluar untuk menunaikan shalat kemudian ia berdo’a dengan do’a ini, ‘sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan wasilah (perantara) orang-orang yang memohon kepadamu dan dengan perantara orang yang sedang berjalan untuk melakukan shalat.

Sesunggunya aku tidak keluar dengan tujuan jahat, tidak pula riya’ dan sombong.  Aku keluar karena aku takut kepada kemarahan-Mu ya Allah dan untuk mencari ridlo-Mu. Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku, karena sesunggunya Engkau adalah Dzat yang mengampuni dosa-dosa”. Karena sebab do’a ini Allah mengutus 70.000 malaikat yang akan memintakan ampunan untuknya, dan Allah  akan memandangnya dengan wajah-Nya sampai ia selesai mengerjakan shalat) (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Baihaqi).

Hadist ini menunjukkan bolehnya bertawasul di dalam do’a dengan perantara amal soleh -yaitu jalannya orang-orang yang berjalan ke masjid untuk menunaikan sholat, dan dengan perantara orang-orang yang berdo’a kepada Allah-.

Inilah dalil-dalil dari al-Qur’an maupun al-Hadits yang menjadi landasan para ulama sepanjang zaman mengenai sunnahnya hukum bertawasul dengan nabi Muhammad SAW semasa hidupnya dan setelah wafatnya.

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum tawasul dengan nabi Muhammad SAW itu hukumnya sunnah dan merupakan salah satu cara berdo’a kepada Allah yang dianjurkan oleh agama Islam. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Prof. DR. Ali Jum’ah, al-bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: