Bai’at Kaum Sufi, Apa Itu?

Bismillah, walhadulillah, wassholatu, wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa aalihi wa shohbihi wa man walaah, wa ba’d. Hubungan antara syekh (guru) dengan murid dalam dunia sufi sangat kental. Ada banyak istilah yang menggambarkan kedekatan hubungan antara guru dengan murid diantaranya al-’ahdu (janji), al-bai’ah (baiat), at-tahkiim (kesepakatan), ilbaasul khirqoh (memakai kain), atau at-thoriiq (jalan). Secara dzohir istilah-istilah itu menggambarkan dekatnya hubungan dan eratnya ikatan antara guru dengan murid, tetapi pada hakekatnya ini adalah ikatan antara murid dengan Allah SWT.

Di dalam bahasa arab al-‘ahdu memiliki beberapa makna diantaranya al-washiyyah, adz-dlimaan, al-amru, ar-rukyah, dan al-manzil. Setiap hal yang menunjukkan adanya hubungan antara Allah dengan hamba-hamba-Nya adalah al-’ahdu. Di dalam hadits dikatakan, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu (aku taat dengan perintah-Mu (Allah) dan janji-Mu (Allah) sesuai dengan kemampuanku”. (HR al-Bukhori).

Adapun al-‘Ahdu menurut para sufi, Syekh Suhrowardi mengatakan, “al-‘ahdu adalah sebuah ikatan yang kuat antara syekh dengan murid. Ikatan ini merupakan suatu perjanjian dari murid kepada sang guru agar sang guru senantiasa membimbing dan mengarahkannya menuju kebaikan dunia dan akherat. Perjanjian ini berarti memohon kepada guru agar beliau mau menunjukkan cara-cara yang benar dalam beribadah dan memperlihatkan kepadanya penyakit-penyakit yang telah menjangkit hati dan jiwanya, agar ia dapat mencari obatnya. (‘awariful ma’arif).

Al-‘ahd juga bermakna al-bai’ah (berbaiat), maksudnya dengan bai’at akan tercipta suatu hubungan persaudaraan antara syekh mursyid (guru pemandu) dengan murid-murid yang menginginkan tercapaianya ma’rifat wushul kepada Allah SWT. Bai’at berfungsi untuk mempercepat penyaluran kebaikan, kemuliaan, dan barokah sang guru kepada sang murid dengan harapan agar keburukan akhlak dan penyakit-penhyakit hati sang murid akan segera terangkat.

Seorang hamba yang ingin berjalan menuju Alah tidak cukup hanya mencukupkan diri membaca kitab-kitab tasawuf, karena ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kitab hanya akan masuk ke dalam akal, tidak sampai ke hati. Disamping itu ketika membaca kitab seringkali nafsu dan syetan ikut menyertainya, sehingga ia banyak mengalami kekeliruan dan kesalahan yang akhirnya mengantarkannya pada kesesatan.

Anugerah ruhiyyah (ilmu-ilmu rohani) yang akan diberikan Allah kepada hambanya adalah hasil dari kesungguhan, riyadloh, dan keikhlasan dalam beramal, bukan dari kitab. Para shufiyah (ahli sufi) adalah orang-orang diberi anugerah oleh Allah bisa mengetahui keadaan hati dan ruh karena kesungguhan mereka dalam beramal. Mereka sering mengatakan, “lam yanal al-musyahadah man taroka al-mujahadah” (seorang murid tidak akan bisa menyaksikan Allah -dengan mata hatinya- apabila ia meninggalkan mujahadah (kesungguhan beramal dengan anggota badannya)).

Orang yang ingin berjalan menuju Allah harus meninggalkan segala kesenangan hawa nafsu dan gemerlapnya dunia. Ia harus senantiasa membekali dirinya dengan taqwa. Senjata yang harus dibawa oleh murid dalam perjalanan ini adalah dzikir, dan kendaraannya adalah kemauan yang kuat untuk sampai kepada Allah SWT. Orang yang berjalan menuju ke suatu tempat tidak akan sampai pada tujuannya melainkan dengan meminta petunjuk kepada orang yang mengetahui arah dan kondisi jalan ini. Orang yang mengetahui jalan menuju Allah dalam dunia sufi adalah seorang syekh (guru) yang sempurna yang diberi kemampuan oleh Allah untuk mendidik para murid.

Ada ungkapan yang sangat terkenal di kalangan para sufi, man la syaikho lahu fas syaithoonu syaikhuhu (barangsiapa yang tidak memiliki guru, maka syetanlah yang akan menjadi gurunya). Orang yang ingin berjalan menuju Allah dengan meminta petunjuk kepada orang yang telah sampai kepada Allah, akan dimudahkan jalannya. Oleh karena itu seorang murid harus mencari seorang guru. Setelah menemukannya ia harus senantiasa mengabdikan diri sepenuhnya kepada sang guru, dan menuruti segala apa yang menjadi perintah dan larangannya.

Syekh mursyid adalah guru yang berwenang untuk membai’at sang murid dengan menasehati dan menunjukkannya pada jalan yang diridloi Allah. Ia adalah orang yang akan memberikan cahaya pada gelapnya jiwa seseorang sehingga ia gemar beribadah kepada Allah dengan mata hati, petunjuk, dan keyakinan. Dengan kemantapan hati, si murid berbai’at dan berjanji untuk berjalan bersama dengan sang guru dengan berusaha menghindari segala penyakit hati dan senantiasa berhias diri dengan sifat-sifat yang baik, dan berkeinginan kuat untuk mencapai maqom (tingkatan) ihsan (beribadah seolah-olah melihat Allah).

Bai’at pada hakekatnya adalah bai’at kepada Allah. Firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (QS. Al-Fath: 10).

Meskipun secar dzohir seorang murid berbai’at kepada syekh, akan tetapi pada hakekatnya ia sedang berbai’at kepada Allah SWT. Dan ayat di atas adalah dalil yang menjadi landasan akan bolehnya hukum bai’at.

Di dalam kitab tafsir ruhul bayan, syekh Isma’il bin Sudakin mengatakan, “orang yang membai’at orang-orang ada tiga, yaitu para rasul, syekh pewaris para rasul, dan para kepala pemerintahan. Akan tetapi pada hakekatnya yang membai’at pada tiga orang itu adalah Allah SWT, jadi seolah-oleh mereka semua adalah wakil-wakil Allah di bumi. Dan mereka bertiga disyaratkan harus senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dan syarat bagi orang yang dibai’at adalah melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh syekh. Para rasul dan syekh tidak mungkin memerintahkan perbuatan maksiat, karena rasul ma’shum (terjaga) dan syekh makhfudz (terlindungi) oleh Allah SWT. Dan kepala-kepala pemerintahan yang mengikuti jalan para rasul juga akan dijaga oleh Allah SWT.

Bai’at sifatnya mengikat dan harus dilaksanakan sampai ia berjumpa dengan Allah. (ruhul bayan). Firman Allah,

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولا

Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa. Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isro’: 34).

Dan lafadz al-‘ahd (janji) pada ayat di atas bersifat umum yang mencakup bermacam-macam bai’at (diantaranya 3 bai’at yang telah disebutkan di atas).

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya hukum bai’at di dalam syareat Islam diantaranya, diriwayatkan dari Ubadah bin Shomit rodliyallahu ‘anh, Rasulullah SAW bersabda, “berbai’atlah kepadaku bahwa kalian tidak akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berbohong, dan tidak melakukan maksiat lainnya. Barangsiapa yang menepati janjinya, maka Allah akan memberikan pahala kepada kalian.

Dan barangsiapa yang melanggar, maka ia akan mendapatkan adzab di dunia yang menjadi tebusannya, atau diserahkan kepada Allah apakah Allah akan memaafkannya atau menghukumnya”, para sahabat berkata, “kami menerima bai’at itu wahai Rasul”. (HR Bukhori, Muslim).

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah rodliyallahu ‘anh, beliau bekata, “aku berkata, wahai Rasulallah! berilah aku syarat, karena engkaulah yang paling berhak untuk memberikan syarat, lalu nabi berkata, “aku membai’atmu bahwa engkau akan menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Engkau akan melaksanakan shalat, membayar zakat, menasehati orang muslim, dan engkau berlepas diri dari perbuatan syirik”. (HR Ahmad). Riwayat Jarir juga, beliau berkata, “aku berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan memberi nasehat kepada orang-orang Islam”. (HR al-Bukhori)

Dari penjelasan di atas maka kita telah memahami bahwa bai’at merupakan perbuatan yang memiliki landasan hukum, baik di dalam al-Qur’an maupun al-hadits. Dan ini merupakan bagian dari bentuk tolong-menolong dalam kebaikan yang disyareatkan agama. Firman Allah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kalian untuk berbuat kebaikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan bermusuhan. (QS. Al-Maidah: 2).

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita semua agar kita selalu berada di jalan yang diridloi-Nya, Amiin. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: