Seorang Mufti Harus Dimiliki Adab Ini

Seorang mufti harus menghias diri dengan banyak adab. Imam Ahmad berkata, “Seseorang tidak boleh mengeluarkan fatwa sebelum ada 5 hal di dalam dirinya, yaitu:

1. Memiliki niat yang lurus, barang siapa yang tidak memiliki niat maka ia tidak akan mendapatkan cahaya di dalam fatwa-fatwanya.

2. Ia adalah orang yang berilmu, lemah lembut, dan wira’i.

3. Ia harus memiliki dalil dan hujjah yang kuat atas apa yang menjadi fatwanya.

4. Cakap dan berwibawa, sehingga ia tidak menjadi bahan ejekan manusia.

5. Pandai melihat kondisi manusia”. (i’lamul muwaqi’iin).

Ibnu Qoyyim mengatakan, “seseorang yang diberi tugas untuk menyampaikan hukum dari Allah harus benar-benar mengerti atas apa yang ia sampaikan. Ia juga harus memiliki riwayat hidup yang baik, adil dalam perkataan dan perbuatannya, sama antara dzohir dengan batinnya, dan bukan orang munafik”. (i’lamul muwaqi’iin).

Seorang mufti juga harus memakai pakaian yang berwibawa, selalu menjaga kebersihan, selalu berlaku dengan aturan syareat, memiliki niat yang kuat untuk menghidupkan al-Kitab dan as-Sunnah karena ingin memperbaiki kemerosotan moral manusia, dan selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Ia juga harus selalu berusaha menolak bisikan-bisikan yang tidak baik yang mendorongnnya untuk memperolah kehormatan dan pujian, atau menyanjung pendapatnya sendiri dan menyalahkan orang lain, dan ia juga harus melakukan apa-apa yang menjadi fatwanya.

Disamping itu seorang mufti juga harus menjaga dirinya dari tindakan mengeluarkan fatwa ketika sedang marah, ketika sangat bergembira, sangat lapar, sangat haus, ketika mengantuk, atau sedang sakit yang akan menghalanginya untuk berpikir sehat. Karena fatwa yang dikatakannya berfungsi untuk menjelaskan hukum syar’i yang akan dipakai oleh manusia yang banyak yang menuntut pertanggung jawaban yang besar.

Nabi bersabda, “seorang hakim tidak boleh memutuskan suatu perkara sementara ia dalam keadaan marah”. (HR Bukhori, Abu Dawud, an-Nasa’i). Jika ia sedang berada dalam keadaan marah, maka hendaknya ia duduk sejenak lalu diam dan tidak mengeluarkan fatwa sampai hilang rasa marahnya.

Seorang mufti dapat diibaratkan sebagai dokter. Dengan ilmunya ia dapat mengetahui banyak rahasia dan aib manusia. Dan setelah mengetahui aib-aib manusia ia dituntut untuk menutupinya. Seorang mufti tidak boleh menyebarkan aib kepada orang lain. Oleh karena itu seorang mufti harus memperhatikan hal-hal berikut ini,

1. Apabila orang yang meminta fatwa itu lambat dalam memahami jawaban sang mufti, maka ia harus bersabar dan bersikap lemah lembut untuk memahamkannya.

2. Apabila mufti perlu menjelaskan beberapa hal di luar pertanyaan seseorang, maka ia harus menjelaskan tambahan-tambahannya untuk lebih memperjelas fatwa. Dan hendaknya seorang seorang mufti memberikan jawaban yang lebih bermanfaat bagi si penanya meskipun itu bukan termasuk hal yang ditanyakan, sebagaimana dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah (wahai nabi)! apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka Sesungguhnya Allah maha mengetahuinya. (QS. Al-Baqoroh: 215).

Orang-orang bertanya kepada nabi Muhammad SAW tentang apa yang dipakai untuk dinafkahkan, namun nabi menjawab dengan pertanyaan kepada siapa infaq itu harus diberikan -karena hal ini lebih penting dari pada apa yang mereka tanyakan-.

3. Jika seorang mufti melarang sesuatu hal kepada orang yang meminta fatwa, maka ia harus memberikan solusi lain sebagai pengganti dari sesuatu yang dilarangnya itu.

4. Hendaknya mufti tidak menjawab jika si peminta fatwa tidak mampu menyerap jawaban dari pertanyaannya, sebagaimana perkataan Ali rodliyallahu ‘anh, “berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuannya. (HR Bukhori). Ibnu Mas’ud berkata, “jika engkau menjelaskan ilmu yang berada di luar batas kemampuan akalnya, maka sama saja engkau sedang membuat fitnah”. (HR Muslim).

Termasuk adab yang harus dimiliki oleh seorang mufti adalah mempermudah urusan manusia, menutupi aib dan kekurangan mereka, dan mengajak mereka mengikuti pendapat ulama yang meringankan -bukan yang memberatkan-. Karena sesungguhnya agama Islam itu mudah.

Sufyan ats-Tsauri rohimahullah mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang melakukan suatu amalan yang diperselisihkan oleh para ulama, dan orang itu mengamalkan dengan cara lain yang berbeda dengan caramu maka janganlah engkau melarangnya”. (hilyatul auliya’). Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “hendaknya seorang faqih tidak memaksakan manusia untuk mengikuti madzhabnya apalagi sampai menyusahakannya”. (al-adab as-syar’iyyah, Ibnu Muflih).

Imam Ibnu Qodamah al-Muqoddasi mengatakan, “ulama salaf telah dijadikan oleh Allah sebagai alat yang berfungsi untuk mengokohkan pondasi Islam dan menyelesaikan permasalahan umat. Kesepakatan mereka adalah hujjah (dalil), dan perbedaan diantara mereka adalah rahmat bagi kita”. (al-mughi, Ibnu Qudamah).

Sesungguhnya memudahkan manusia dan memberikan keringanan kepada mereka dalam menjalankan agama lebih baik dari pada mempersulit mereka. Dan mewajibkan mereka untuk melaksanakan pendapat sebagian ulama yang memberatkan mereka adalah tindakan yang bertentangan dengan manhaj (metode) nabi Muhammad SAW dan para ulama salafussholih, karena tindakan ini sama saja menghalangi orang dari jalan Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan pemahaman dan keikhlasan kepada kita semua. Amiin.

Dari paparan singkat di atas, maka jelaslah apa itu hakekat fatwa dan segala hal yang berkaitan dengannya. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa menganugerahkan keikhlasan di dalam perkataan dan perbuatan kita semua. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: