Bagaimana Orang Khusus Dan Orang Awam Berprasangka Baik Kepada Allah (Hikmah ke-empat puluh)

إِنْ لَمْ تُحْسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لأِجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ فَحَسِّنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُوْدِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ، فَهَلْ عَوَّدَكَ إِلاَّ حَسَنًا؟، وَهَلْ أَسْدَى إِلَيْكَ إِلاَّ مِنَنًا؟

Jika engkau tidak berprasangka baik kepada Allah karena kebaikan sifat-Nya, maka berprasangka baiklah kepada Allah dengan ‘bagaimana Ia telah berlaku padamu’. Tentu saja ia selalu berbuat baik dan melimpahkan anugerah-Nya untukmu

Dua golongan orang yang berprasangka baik kepada Allah

Ketahuilah, bahwa berprasangka baik kepada Allah merupakan salah satu dari beberapa maqom yakin. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi dua golongan: pertama, golongan orang-orang khusus, mereka senantiasa berkhusnudzdzon kepada Allah karena melihat sifat-sifat Allah yang baik dan mulia.

Sedangkan yang kedua adalah golongan orang-orang awam, mereka berkhhusnudzdzon kepada Allah karena nikmat yang telah mereka terima dari Allah. Jika engkau belum mendapatkan maqom dan kedudukan orang-orang khusus, maka berkhusnudzdzonlah kepada Allah karena benyaknya kenikmatan yang telah Allah berikan padamu. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan karunia dan anugerah-Nya yang banyak untukmu.

Hendaklah seorang hamba selalu berprasangka baik kepada Allah dalam segala urusan -baik dunia maupun akherat-. Dalam urusan dunia hendaklah engkau selalu yakin dan percaya kepada Allah yang akan mengirimkan rizki dan kemanfaatan untukmu meskipun tanpa ikhtiar dan usaha, -ikhtiar dan usaha yang sedikit dibolehkan oleh syar’i dan bahkan mendapatkan pahala apabila tidak sampai meninggalkan ibadah wajib dan sunah-.

Apabila engkau mampu memahami hikmah ini, maka engkau akan merasakan ketenangan di dalam hatimu, karena engkau tidak akan bersusah payah dan mati-matian dalam mencari dunia.

Adapun di dalam urusan akherat, hendaklah engkau memiliki keyakinan dan prasangka baik bahwa amalmu pasti diterima oleh Allah, sehingga engkau akan cepat-cepat dan bersegera untuk melaksankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Salah satu kondisi seorang hamba yang diharuskan untuk berkhusnudzdzon kepada Allah adalah ketika ia akan menjemput ajal. Di dalam hadits dikatakan, “janganlah seseorang itu akan meningal, kecuali ia berkhusnudzdzon kepada Allah”. Di hadits lain dikatakan, “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku dengan apa saja”.

Syekh Abdul Majid As-Syarnubi Al-Azhari, Syarkhu kitabil hikam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: