Apa Itu Shalat Tasbih?

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi wa shohbibi wa man walah, wa ba’d. Shalat tasbih adalah salah satu jenis shalat sunnah yang memiliki tata cara khusus. Shalat ini tidak seperti bentuk gerakan shalat pada shalat-shalat sunah lainnya, karena ia memiliki gerakan tersendiri. Dinamakan dengan shalat tasbih karena shalat ini mengandung banyak bacaan tasbih.

Diriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAW berkata kepada Abbas bin Abdil Mutholib, “wahai Abbas pamanku!, maukah engkau aku beri suatu amalan yang apabila engkau mau melakukannya maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, yang disengaja dan yang tidak disengaja, yang besar maupun yang kecil, dan yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Yaitu engkau melakukan shalat 4 rekaat, pada setiap rekaat engkau membaca al-Fatehah kemudian surat. Dan setelah engkau selesai membaca surat dan engkau masih dalam keadaan berdiri maka bacalah, subhanallah walhamdulillah wa laa ila haillallah wallahu akbar sebanyak 15 kali, kemudian engkau melakukan ruku’, dan ketika dalam keadaan ruku’ engkau membacanya sebanyak 10 kali. Kemudian engkau melakukan i’tidal, dan ketika dalam keadaan i’tidal engkau membacanya sebanyak 10 kali.

Lalu engkau bersujud, dan ketika masih dalam keadaan bersujud engkau membacanya sebanyak 10 kali. Kemudian engkau duduk diantara dua sujud dan membacanya sebanyak 10 kali, kemudian engkau kembali bersujud dan membacanya sebayak 10 kali. Dan engkau kembali duduk (akan berdiri) dan membacanya sebanyak 10 kali. Jadi semuanya berjumlah 75 bacaan tasbih pada setiap rekaat. Lakukanlah seperti itu pada rekaat berikutnya.

Jika engkau bisa menjalankannya setiap hari maka lakukanlah!, jika tidak bisa maka lakukanlah satu kali dalam seminggu. Jika tidak bisa, maka lakukanlah sekali setiap bulan. Jika tidak, maka lakukanlah sekali setiap tahun, dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidup”.

Hadits di atas diriwayatkan oleh banyak sahabat, diantaranya Abdullah bin Abbas, Abi Rofi’, Abdullh bin Amr, Abdullah bin Umar, al-Abbas bin Abdul Mutholib, Ja’far bin Abi Tholib, dan Ummu Salmah (sholatut tashbiih, Muhammad Bayumi). Begitu juga dengan para perowi hadist diantaranya Abi Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Di dalam kitab al-mustadrok, al-Hakim berkomentar mengenai hadits yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Abi tholib. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shohih sanadnya, tidak ada cacat di dalamnya. Alasan keshohihan hadits ini adalah karena banyak para imam dan ulama yang menggunakan hadits ini, dan mereka terus mempraktekkannya sampai sekarang. (al-mustadrok).

Dan diantara ulama yag menshohihkan hadits ini adalah al-Hafidz Abu Bakar al-Ajiri di dalam kitabnya an-nashikhah, Ibnu Mundah, Abu Sa’id as-Samani, pengarang kitab al-ansaab, Abu Muhammad Abdurrohim al-Misri, Abul Hasan al-Muqoddasi, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi di dalam kitabnya yang berjudul at-tarjiih lihadisi sholatittashbiih, Ibnu Sholah di dalam fatwanya, al-Bulqini, dan al-Hafidz al-Mundziri di dalam kitab at-targhiib. Imam as-Subki, Imam az-Zarkasyi, dan imam as-Suyuti juga menshohihkan hadits ini. (sholatut tashbiih, Muhamad Bayumi).

Perkataan imam an-Nawawi berbeda-beda mengenai keshohihan hadist di atas. Di dalam kitabnya al-majmu’, beliau mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits dzo’if. Namun di dalam kitab tahdziibul adab’ wallughot beliau mengatakan bahwa hadits ini termasuk hadits hasan. Al-Hafidz Ibnu Hajar dapat memahami perkataan iman Nawawi yang berbeda ini setelah membaca kitabnya –al-adzkar-. Di dalam al-adzkar dikatakan bahwa disunahkan untuk melaksanakan shalat tasbih. (al-adzkar, imam an-Nawawi).

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan di dalam kitab al-fatawa al-kubro, pendapat yang benar di dalam hadits shalat tasbih adalah bahwa hadits itu hasan lighoirihi. Adapun ulama yang beranggapan bahwa hadits ini hadits shohih karena perbedaan istilah saja, karena hadits hasan lighoirihi juga dianggap sebagai hadits shohih karena banyaknya hadits dan riwayat yang mendukung hadits sholat tasbih ini. Dan adanya sebagian ulama yang mendzo’ifkannya -seperti imam an-Nawawi-, karena ia melihat dari sisi jalur periwayatan hadits.

Ketika imam an-Nawawi mengatakan hasan, karena ia melihat dari sisi yang sudah saya jelaskan. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada pertentangan antara pendapat para ulama dalam hal ini. (al-fatawa al-fiqhiyyah al-kubro). Sementara Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa hadits sholat tasbih ini termasuk hadits palsu sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab al-khishol al-mukfiroh. Dan jika kita menengok madzhab empat maka kita akan menjumpai bahwa semua madzhab empat mengatakan bahwa shalat tasbih itu disyareatkan bahkan disunahkan.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: