Apakah Mengusap Wajah Dengan Kedua Telapak Tangan Setelah Selesai Berdo’a Termasuk Bid’ah?

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa aalihi washohbihi wa man wa lah, wa ba’d. Berdo’a adalah suatu ibadah yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah SWT. Ketika berdo’a seolah-olah orang yang berdo’a itu sedang berhadapan dengan Allah SWT. Do’a adalah ekspresi seorang hamba yang mengakui sifat membutuhkan dan lemah dihadapan Allah SWT, dan mengakui kekuatan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa do’a adalah ibadah. Nabi bersabda, ad-du’au huwal ‘ibadah (do’a adalah ibadah), lalu beliau membaca ayat al-Qur’an,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mukmin: 60).

Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk berdo’a. Firman Allah,

وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ

Mintalah kemurahan dari Allah. (QS. An-Nisa’: 32).

-firman Allah,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai (nya). (QS. Al-Mukmin: 14).

-firman Allah,

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

Mintalah kepada Allah dengan perasaan takut dan berharap. (QS. Al-A’rof: 56).

Rasulullah SAW telah melarang kita untuk tidak berdo’a kepada Allah. Dari Abi Huroiroh rodliyalalhu ‘anh, nabi bersabda, man lam yas’alillaha yaghdlob ‘alaihi (HR Ahmad, Bukhori), artinya: “barangsiapa yang tidak berdo’a kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya”.

Allah SWT tidak akan menolak hamba yang berdo’a kepada-Nya dengan mengangkat tangannya, dengan perasaan khusu’ dan harapan yang penuh. Allah SWT akan memberikan barokah yang melimpah kepada orang yang memperbanyak berdo’a di dalam setiap kebutuhannya dan tidak peduli apakah Allah akan mengabulkannya atau tidak.

Nabi bersabda, “tidak ada seorang muslim yang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, dan orang itu tidak berlaku maksiat atau memutuskan hubungan tali silaturrohim, melainkan Allah akan memberinya 3 hal, yaitu cepat terkabulnya, permintaannya akan disimpan di akherat nanti, atau dihindarkannya dari keburukan-keburukan”. (HR Ahmad, al-Hakim).

Para imam dan ulama ahli fiqih telah menyatakan kesunahan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdo’a. Karena ketika berdo’a seolah-oleh tangannya telah menerima rahmat dari Allah lalu mengusapkannya pada anggota badan yang paling mulia yaitu wajah. (subulus salam).

Imam an-Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya al-adzkar bahwa mengusap kedua tangan pada wajah setelah berdo’a merupakan bagian dari adab yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Beliau mengatakan, “termasuk adab di dalam berdo’a adalah dikerjakan di waktu, tempat, dalam keadaan yang baik, menghadap qiblat, mengangkat kedua tangan, mengusapkan kedua tangan pada wajah setelah berdo’a, dan memperhalus suara do’a”. (al-majmu’, an-Nawawi).

Pendapat ini juga dikatakan oleh Imam Zakaria al-Anshori di dalam kitabnya asnal matholib, as-Syekh al-Khothib as-Syarbini di dalam kitabnya mughnil muhtaj, dan juga al-Bahuti di dalam kitabnya syarh muntahal iroodat.

Adapun dalil yang menjadi landasan para ulama adalah hadits nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sayidina Umar rodliyallahu ‘anh. Nabi bersabda, kana rasuulullah shollallahu ‘alaihi wasallam idza madda yadaihi fiddu’aa’ lam larudhuma hattaa yamsah bihima wajhahu (HR at-Tirmidzi), artinya: “apabila nabi mengangkat tangannya di dalam do’a, beliau tidak menurunkannya kecuali telah mengusapkannya pada wajahnya”.

Di dalam kitab al-adabul mufrod, imam al-Bukhori mengatakan bahwa perbuatan mengusap kedua tangan setelah berdo’a dilakukan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Zubair. Diriwayatkan dari Ibrohim, dari Ibnu Mundzir, dari Muhammad bin Falih, dari ayahnya, dari Abi Nu’aim, dari Wahb, beliau berkata, “aku melihat Ibnu Umar dan Ibnu Zubair berdo’a, dan setelah berdo’a mereka mengusapkan kedua tanganya pada wajah”. (al-adabul mufrod, al-Bukhori).

Adapun mengusap wajah setelah membaca do’a qunut di dalam shalat subuh adalah satu pendapat dari ulama pengikut madzhab Syafi’i. Dan ulama yang menyetujui pendapat ini diantaranya al-Qodli Abut Thoyyib, Syekh Muhammad al-Juwaini, Ibnu as-Shobagh, al-Mutawalli, al-Ghozali, dan al’Amroni. Dan pendapat ini yang dijadikan sebagai sandaran di dalam madzhab Hambali sebagaimana dikatakan oleh al-Bahuti.

Dari paparan di atas kita dapat memahami bahwa hukum mengusap muka setelah doa adalah bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ini adalah perbuatan bid’ah yang tidak ada dasarnya di dalam syareat Islam. Dan tidak perlu terjadi perbedaan pendapat diantara kaum muslimin di dalam permasalahan ini, karena para ulama tidak berbeda pendapat. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: