Apakah Perbuatan-Perbuatan Yang Tidak Dilakukan Oleh Rasulullah Dan Para Sahabat Boleh Kita Lakukan?

Para ulama telah bersepakat bahwa meninggalkannya nabi atas suatu perbuatan tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk mengatakan ketidakbolehan hukum perbuatan itu.

Adapun sumber hukum yang menjadi landasan oleh para ulama untuk menetapkan suatu hukum -apakah itu wajib, sunah, makruh, atau mubah- adalah:

1.  Al-Qur’an

2.  Al-Hadits

3. Ijma’

4. Qiyas

5. Perkataan sahabat

6. Saddudz dzarii’ah

7. Perbuatan penduduk madinah

8. Hadits mursal

9. Istikhsan

10. Hadits dzo’if

Dan at-tarku (tidak melakukannya nabi atas suatu perbuatan) bukan merupakan landasan hukum di dalam agama Islam dan tidak memberikan efek apapun pada hukum syar’i. Hal ini telah menjadi kesepakatan diantara para ulama sebagaimana para sahabat juga telah memahami hal ini.

Para ulama salafussholih tidak pernah mengatakan bahwa sesuatu yang ditinggalkan nabi hukumnya haram atau makruh. Dan ini yang menjadi pemahaman para ahli fiqih sepanjang masa.

Ibnu Hazm telah menolak salah satu pendapat dari madzhab Maliki dan madzhab Hanafi karena mengatakan makruhnya shalat sunnah dua rekaat sebelum shalat maghrib dengan alasan sayyidina Abu Bakar, Umar, dan Utsman tidak melakukannya.

Ibnu Hazm mengatakan bahwa perbuatan para sahabat yang meninggalkan shalat sunnah dua rekaat sebelum maghrib tidak boleh mengakibatkan adanya hukum syar’i selama tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa para sahabat telah mengharamkan atau memakruhkannya.

Telah diriwayatkan bahwa dahulu nabi Muhammad tidak berkhothbah di atas mimbar, tetapi beliau berkhothbah dengan bersandar pada pohon kurma. Para sahabat lantas tidak memahami bahwa khotbah di atas mimbar itu bid’ah atau haram, sehingga mereka membuatkan mimbar untuk beliau. Sesungguhnya para sahabat telah memahami bahwa perbuatan yang tidak dilakukan nabi tidak menunjukkan haramnya perbuatan itu.

Diriwayatkan bahwa pada saat i’tidal di dalam shalat, nabi Muhammad tidak membaca do’a robbana wa lakal hamdu hamdan katsiiron….Namun para sahabat tidak memahami bahwa ini berarti nabi melarang mereka untuk membaca do’a itu. Diriwayatkan oleh Rifa’ah bin Rofi’ az-Zarqoni, ‘suatu hari kami shalat dibelakang nabi Muhammad SAW.

Ketika kami sedang mengangkat kepala setelah ruku’, nabi berkata samii’allahu liman hamida. Lalu ada salah seorang sahabat di belakang yang berucap robbana wa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiih. Setelah selesai shalat, nabi bertanya, “siapa yang mengucapkan do’a tadi?”, salah seorang sahabat berkata,  “saya wahai nabi!”, nabi berkata,  “aku melihat lebih dari 30 malaikat saling berlomba -siapakah yang akan menulis amalan itu lebih dahulu-”.

Mengenai hadits ini, al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini dapat digunakan sebagai dalil yang membolehkan untuk menciptakan bacaan-bacaan dzikir dan do’a di dalam shalat -selama tidak bertentangan dengan bacaan dzikir yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW-. Oleh karena itu, apabila menciptakan dan membaca do’a boleh dilakukan di dalam shalat, maka menciptakan bacaan do’a dan dzikir diluar shalat tentu akan lebih boleh dilakukan.

Contoh lainnya adalah sahabat Bilal tidak memahami bahwa meninggalkannya nabi atas shalat dua rekaat setelah berwudhu menunjukkan haramnya perbuatan ini. Dengan inisiatifnya sendiri Bilal selalu melaksanakan shalat sunnah dua rekaat setelah berwudlu.

Pada suatu hari nabi bertanya kepada Bilal, “wahai Bilal! beritahukan kepadaku amalan apa yang telah engkau lakukan sehingga aku mendengar suara sandalmu di surga?”, Bilal menjawab, “setelah berwudlu aku selalu melakukan shalat sunnah wahai Rasul!”. Abu Abdillah yang berdiri di depanya berkata, “coba gerakkan sandalmu wahai Bilal!”.

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak melakukannya nabi dan sahabat atas suatu perbuatan tidak mengakibatkan suatu hukum syar’i -baik itu haram, makruh, dan sebagainya-. Dan inilah yang dipahami oleh para sahabat di masa hidup nabi SAW, dan nabi tidak mengingkari atas apa yang dipahami oleh para sahabat. Para ulama di zaman dahulu dan sekarang juga memiliki pemahaman yang serupa dengan pemahaman para sahabat nabi. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar menganugerahkan kepada kita pemahaman yang benar tentang agama ini. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: