Hukum Mengucapkan Kata Sayidina Muhammad Di Dalam Shalat

Adapun mengenai hukum mengucapkan kata sayidina Muhammad di dalam shalat, adzan, dan ibadah-ibadah yang lain, para ulama berbeda pendapat. seorang ulama yang bermadzhab Hanafi –al-Khaskafi- mengatakan bahwa disunahkan dan dianjurkan untuk menambahkan kata sayyidina sebelum nama Muhammad SAW, karena itu merupakan salah satu cara bersikap sopan santun kepada nabi Muhammad SAW.

Adapun riwayat yang mengatakan, laa tusayyidunii fis sholaah (janganlah engkau memanggilku dengan sebutan sayid di dalam shalat) adalah riwayat yang bohong. Lafadz la tusayyiduuni –yang dengan memakai huruf ya’- adalah lahn (cacat) menurut ilmu tata bahasa arab. Lafadz yang benar harus memakai huruf wawu, sehingga dibaca laa tusawwidunii fis sholah.

Adapun seorang ulama yang bermadzhab Maliki, yang mengatakan kesunahannya adalah Nafrowi. Beliau mengatakan bahwa ini termasuk bagian dari adab kepada nabi. Dan adab itu lebih utama dari pada sekedar melaksanakan perintah. (ad-daar al-mukhtaar).

Syekh al-Hathob al-Maliki berkata, Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengatakan bahwa permasalahan mengucapkan lafadz sayyidina ketika shalat terjadi perbedaan diantara para ulama, dalam hal mana yang lebih utama antara melaksanakan perintah atau memenuhi adab. Aku mengatakan bahwa pendapat yang menurutku kuat dan yang aku lakukan ketika aku sedang shalat adalah dengan menambahkan kata sayyidina sebelum nama Muhammad SAW. (mawahibul jaliil syarkhu mukhtashor al-kholil).

Imam as-Syaukani mengatakan, “diriwayatkan dari Ibnu Abdissalam bahwasanya beliau menjadikannya sebagai bagian dari adab dan sopan santun kepada nabi Muhammad SAW. Beliau mengatakan bahwa adab itu lebih diutamakan dari pada sekedar menjalankan perintah. Adapun riwayat yang menguatkan pendapat ini adalah, ketika Rasulullah memerintahkan Abu Bakar untuk tetap berada ditempatnya, ia tidak melakukannya. Abu Bakar berkata, “bagaimana aku berani berada di depan nabi Muhammad SAW?!”.

Begitu pula menolaknya sayyidina Ali terhadap perintah nabi untuk menghapus namanya dari lembaran perjanjian Hudaibiyah. Ali berkata, “aku tidak akan menghapus namamu selamanya wahai nabi!”. Kedua riwayat ini adalah contoh penolakan sahabat atas perintah nabi Muhammmad karena alasan mendahulukan adab dan sopan santun.

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa menggunakan kata sayidina sebelum nama Muhammad termasuk bagian dari anjuran di dalam agama Islam. Dan diantara ulama yang menambahkan kata sayyidina di depan nama Muhammad di dalam shalat, adzan, dan ibadah-ibadah yang lain adalah ‘Iz bin Abdissalaam, Romli, Qulyubi, as-Syarqoni, al-Khaskafi, Ibnu ‘Abidin, as-Syaukani, dan masih banyak lagi.

Adapun menambahkan kata sayyidina sebelum nama Muhammad di luar ibadah tidak terjadi perbedaan diantara para ulama mengenai kebolehannya. Semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita tentang bagaimana cara bertata krama dan bersopan santun yang baik kepada nabi Muhammad SAW. Wallahu ta’ala a’lawa wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: