Apa Itu Fatwa ? Apa Kaitannya Dengan Faqih, Mufti Dan Qodli

Arti fatwa secara istilah adalah menjelaskan hukum suatu permasalahan dengan berlandaskan dalil-dalil syar’i kepada orang yang bertanya. Imam as-Shoirofi berkata, “mufti adalah istilah untuk menyebutkan orang yang memegang urusan agama umat manusia.

Seorang mufti harus mengetahui keumuman ayat al-Qur’an dan kekhususannya, nasikh dan mansukhnya, mengetahui hadits nabi, juga cara beristimbat (mengambil hukum). Barangsiapa yang memiliki kemampuan seperti ini maka ia layak mendapatkan jabatan itu, dan jika ia dimintai fatwa maka ia boleh mengeluarkan fatwa”. (al-furq, al-Qorofi).

Imam az-Zarkasyi mengatakan, “mufti adalah orang yang mengetahui hukum-hukum syareat. Sedangkan mustafti (orang yang meminta fatwa) adalah orang yang tidak mengetahui semua hal tentang hukum-hukum syareat”. (al-bakhrul mukhiit, az-Zarkasyi).

PERBEDAAN KATA FATWA DENGAN KATA LAIN YANG MEMILIKI MAKNA SERUPA

Al-Ifta’ (fatwa) maknanya hampir sama dengan al-Fiqh (fiqih) dan al-Qodlo’ (keputusan/hukum). ‘Fiqih’ adalah mengetahui hukum-hukum syar’i yang mensifati perbuatan anggota badan yang dihasilkan dari dalil-dalil yang terperinci (nihayatus suul, Asnawi).

‘Fatwa’ adalah menjelaskan kesimpulan hukum yang dihasilkan dari adanya suatu permasalahan (dusturul ulama’). Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa faqih (orang yang ahli fiqih) adalah orang yang mampu menjelaskan hukum-hukum Allah tanpa harus melakukan penelitian terhadap suatu permasalahan atau peristiwa.

Sedangkan al-Qodlo’ adalah sebuah ketetapan hukum yang diwajibkan oleh pemerintah kepada yang bersangkutan atas suatu permasalahan yang telah diserahkan kepada pemerintah (dzofrul ladli, Shodiq Khoon).

HUBUNGAN ANTARA FAQIH, MUFTI, DAN QODLI

1. al-Faqih (orang yang ahli fiqih) mengambil hukum Allah dari dalil-dalil yang terperinci. Dan hukum-hukum itu mewujudkan maksud dan tujuan syareat.

2. al-Mufti (orang yang ahli berfatwa) adalah orang yang mempelajari suatu permasalahan kemudian mencari sang faqih untuk bertanya mengenai hukum Allah pada kejadian ini agar sesuai dengan maksud dan tujuan syareat.

3. al-Qodli (hakim) adalah orang yang memutuskan suatu hukum permasalahan dengan berbagai konsekuensinya kepada orang yang bersangkutan.

Meskipun ketiganya berbeda dan memiliki peran masing-masing, tetapi mereka seringkali tumpang tindih dalam melaksanakan fungsinya. Ada hakim yang melakukan peran sebagai faqih atau mufti. Ada faqih yang berperan sebagai mufti,  dan sebaliknya. Untuk lebih memperjelas fungsi masing-masing, kami akan menjelaskanya secara mudah. Misalnya seorang faqih mengatakan bahwa arak dan minuman keras itu haram berdasarkan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ

Wahai orang-orang yang beriman!, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu. (QS. Al-Maidah: 90).

Sedangkan mufti mengatakan bahwa bagi orang yang terpaksa -karena dalam keadaan darurat dan tidak ada yang diminum kecuali khomr, dan jika ia tidak meminumnya maka ia akan mati-, maka ia boleh meminumnya. Dan seorang hakim akan menegakkan had (hukuman) bagi orang yang meminum khomr, dan tidak menghukum orang yang meminumnya karena terpaksa.

Jika kita melihat kembali kitab-kitab fiqih maka kita akan menemukan banyak fatwa di dalamnya. Namun ada sekumpulan fatwa tersendiri yang telah tersusun rapi menjadi sebuah kitab fatwa. Dan apabila kita hendak mempelajari hukum, maka kita tidak boleh membuka kitab fatwa, kecuali apabila telah yakin bahwa masalah yang kita cari hukumnya serupa dengan permasalahan yang ditulis dalam kitab fatwa tersebut. (kitabul hukmis syar’i ‘indal ushuliyyin, Dr. Ali Jum’ah).

SEORANG KEPALA NEGARA HARUS MENGANGKAT MUFTI

Seorang kepala negara harus melakukan pengamatan terhadap orang-orang yang memiliki kemampuan mengeluarkan fatwa. Ia harus mengangkat orang yang tepat untuk menduduki jabatan sebagai mufti. Metode seorang kepala negara untuk mengetahui kemampuan seorang mufti adalah bertanya kepada para ulama yang ada di negaranya. Diriwayatkan bahwa imam Malik rohimahullah berkata, “aku tidak mengeluarkan fatwa kecuali telah bersaksi sebanyak 70 ulama bahwa saya ahli untuk itu”.

Di riwayat yang lain dikatakan, “aku tidak berfatwa kecuali aku telah bertanya kepada orang yang lebih alim dari pada aku ‘apakah aku pantas mendapatakan kedudukan ini’”. Malik juga berkata, “tidak boleh seseorang mengira bahwa ia ahli dalam bidang ini sampai ia bertanya kepada orang yang lebih alim darinya”. (adabul fatwa wal mustafti, an-Nawawi).

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: