Hukum Mengucapkan Kata Sayyidina Di Depan Kata Muhammad

Kaum muslimin telah bersepakat mengenai tetapnya siyadah (ketuanan) bagi nabi Muhammad SAW. Adapun hadits-hadits yang bertentangan dengan kesepakatan ini akan dijelaskan lebih lanjut. Diantara hadits-hadits yang berlawanan dengan kesepakatan kaum muslimin adalah, diriwayatkan Dari Abi Nadzroh, dari Mathrof, kami berkata kepada nabi, “anta sayyiduna (engkau tuaku)”, nabi menjawab, “assayyid Allah (tuan itu hanya untuk Allah)”.

Hadits yang lain, dari Abduloh bin Syakhir, dari bapaknya, ia berkata, “datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW,lalu ia berkata kepadanya, “anta sayyidu Quraisy (engkau adalah tuannya suku Quraisy)”, lalu nabi berkata, “assayyid Allah (nama tuan itu hanya untuk Allah)”. Laki-laki itu kembali berkata, “engkau adalah orang yang paling utama diantara orang-orang Quraisy”, nabi berkata, “apabila engkau berkata-kata, berusahalah agar jangan sampai terkena godaan syetan”.

Sesungguhnya hadits-hadits di atas telah dimasukkan oleh para perowi hadits ke dalam kitab hadits pada bab karohatut tamaduh (makrunya pujian). Hadist-hadits diatas mengandung pelajaran yang diajarkan oleh nabi kepada umatnya agar menghindari perbuatan memuji dihadapan orang yang dipuji.

Dikisahkan oleh Abi Ma’mar, bahwa ada seorang laki-laki yang tiba-tiba memuji seorang gubernur. Lalu sang gubernur memerintahkan pengawalnya untuk melemparinya dengan debu. Gubernur itu lalu berkata, “Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita agar melumuri wajah-wajah orang yang suka memuji dengan debu.”. Sesungguhnya pujian yang berlebihan yang dilakukan di hadapan banyak orang termasuk akhlak yang tidak baik yang harus dihindari oleh setiap muslim.

Inilah yang dipahami oleh para ulama. Hadits-hadits di atas pada hakekatnya menjelaskan bahwa nabi tidak suka dipuji, karena ia menyukai sikap tawadhu’. Hadits-hadits di atas seolah-olah berkata kepada kita, janganlah memanggil nabi Muhammad dengan memakai kata sayyid yang ditujukan untuk menyerupakan nabi Muhammad dengan raja-raja lainnya.

Tetapi panggilah Muhammad dengan panggilan ‘nabi’ atau ‘rasul’ sebagaimana yang telah Allah perintahkan. (an-nihayah, Ibnu Katsir). Abu Mansur mengatakan bahwa nabi tidak ingin dipuji dihadapannya, karena ia menyukai sikap tawadhu’. (al-mausuu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyah).

Hadits-hadits tersebut berbicara mengenai hakekat. Hakekat tuan yang sebenarnya adalah Allah SWT. Oleh karena itu jika disandarkan kepada selain Allah, maka itu hanya majas (perumpamaan) saja. Seperti perkataan zaidun rokhiimu’ (zaidun adalah orang yang penyayang). Sifat rokhim yang mensifati Zaidun adalah majaz, dan hakekat sifat rokhim hanya milik Allah.

Hal ini serupa dengan apa yang dikatakan Allah di dalam al-Qur’an mengenai siapakah yang mematikan manusia.

Allah berfirman,

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Katakanlah wahai Muhammad!, sesungguhnya Malaikat maut yang diutus kepadamu adalah yang mematikanmu. Kemudian kepada Allahlah kalian semua akan dikembalikan. (QS. As-Sajdah: 11).

Di ayat yang lain Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا

Bahwa Allahlah yang mematikan manusia. (QS. Az-Zumar: 42).

Ayat di atas dapat kita pahami bahwa Allah adalah hakekat yang mematikan manusia. Jika Allah menyebutkan malaikat maut, maka itu hanya majas.

Adapun menggunakan kata sayyid yang dibolehkan adalah bahwa Allah telah menyebutkan lafadz sayyid untuk nabi selain nabi Muhammad, seperti nabi Yahya ‘alihis salam. Firman Allah,

أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Sesunggunya Allah memberikan kabar gembira kepadamu (Zakaria) dengan lahirnya Yahya yang akan membenarkan kalimat-kalimat Allah dan ia akan menjadi sayyid dan termasuk salah satu nabi dari beberapa nabi-nabi yang sholeh. (QS. Ali-Imran: 39).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memakai kata sayyid untuk menyebutkan makhluk selain Allah. Nabi Muhmmad SAW pernah menyebut Sa’ad bin Mu’adz dengan sebutan sayyid. Ketika nabi berkata kepada kaum Anshor, beliau berkata, “quumu ilaa sayyidikum (berdirilah untuk menghormati tuanmu (Sa’ad)”.

Nabi Muhammad juga pernah menyebut dirinya sendiri dengan sebutan sayyid. Nabi bersabda, ana sayyidu waladi aadam yaumal qiyaamati wa la fakhr (HR Muslim), artinya: “aku adalah tuannya bani Adam, dan aku tidak sombong”. Nabi juga pernah berkata kepada Hasan, “sesunggunya anakku ini adalah seorang sayyid”.

Sesungguhnya banyak riwayat yang mengatakan bahwa sahabat-sahabat nabi memanggil nabi dengan sebutan yaa sayyidii (wahai tuanku). Dan penyebutan kata sayyidinna di depan nama nabi Muhammad SAW itu hakekatnya adalah untuk mengagungkan nabi Muhammad dan merupakan bentuk kesopanan yang ditunjukkan oleh para sahabat ketika memanggil nama nabi yang mulia.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: