Hukum Membaca Do’a Qunut Shubuh

Membaca do’a qunut di dalam shalat subuh adalah salah satu permasalahan cabang di dalam ilmu fiqih. Oleh karena itu hendaknya kaum muslimin tidak menjadi berselisih dan bermusuhan karenanya. Para ulama ahli fiqih telah berbeda pendapat dalam masalah ini.

Ulama madzhab Syafi’i dan ulama madzhab Maliki mengatakan bahwa hukum qunut subuh adalah sunnah. Sedangkan sebagian ulama madzhab Hanafi dan madzhab Maliki mengatakan bahwa qunut tidak ada di dalam shalat subuh.

Imam Nawawi berkata, “ketahuihilah!, bahwasanya qunut itu disyareatkan bagi kita di dalam shalat subuh, dan hukumnya adalah sunah muakkad (sunnah yang dikuatkan). Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik rodliyallahu ‘anh, ma zala rasuulullohi sholaallahu ‘alaihi wasallam yaqnuth filfajri khatta faroqod dunya (Rasulullah SAW tetap melaksanakan qunut di dalam shalat subuh sampai akhir hayat beliau) (HR Ahmad dan Daruqutni).

Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa apabila seseorang meninggalkan qunut subuh, maka shalatnya sah tetapi ia harus melakukan sujud sahwi -baik meninggalkan qunut dengan disengaja atau tidak-.

Adapun tempat pelaksanaan qunut adalah setelah ruku’ pada rekaat yang kedua. Apabila ia melakukan qunut sebelum ruku’, maka tidak dihitung sebagai qunut. Ia diwajibkan untuk mengulang kembali qunutnya setelah ia melakukan ruku’, kemudian melakukan sujud sahwi sebelum mengucapkan salam”. (al-mausuu’ah al-fiqhiyyah al-quwaytiyyah).

Diriwayatkan ada beberapa perkataan dari para sahabat dan tabi’in mengenai do’a qunut di dalam shalat subuh. Diantaranya perkataan Ali bin Ziyad yang mengatakan wajibnya melakukan qunut di dalam shalat subuh. Ia mengatakan, “barang siapa yang meninggalkan qunut subuh, maka shalatnya tidak sah”. Imam Abdul Wahab al-Baghdadi mengatakan, diriwayatkan dari Abi Roja al-‘Athoridi, beliau berkata, “qunut subuh itu setelah ruku’, lalu Umar menjadikannya sebelum ruku’”.

Diriwayatkan bahwa sahabat Muhajirin dan Anshor bertanya kepada Utsman bin Affan mengenai qunut subuh. Utsman mengatakan, “qunut subuh itu dilakukan setelah ruku’. Jika dilakukan sebelum ruku’, maka itu termasuk memanjangkan waktu berdiri yang mengandung nilai pahala. Itulah mengapa pelaksanaan qunut itu lebih utama dilakukan sebelum ruku”.

Di dalam maslah ini pendapat para ulama yang bermazhab Syafi’ilah yang dianggap paling kuat. Adapun dalil-dalil yang mereka jadikan sebagai landasan adalah hadits Anas bin Malik, “bahwa Rasulullah SAW tetap melakukan qunut subuh sampai akhir hayatnya”. Anas pernah ditanya oleh seseorang, “apakah nabi melakukan qunut ketika shalat subuh?”, ia menjawab, “iya”. “Sebelum ruku’ atau setelah ruku?”, ia menjawab, “setelah ruku”. (HR Muslim, Abu Dawud).

Diriwayatkan bahwa Abu Huroiroh rodliyallahu ‘anh, ia berkata, “demi Allah! aku adalah orang yang posisi shalatnya paling dekat dengan Rasulullah” . Dan Abu Huroiroh adalah sahabat yang senantiasa melakukan qunut pada rekaat akhir di dalam shalat subuh setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah, kemudian berdo’a untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan melaknat orang kafir. (HR Bukhori, Muslim).

Diriwayatkan bahwa Abdulah bin Abbas berkata, “Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kami do’a qunut di dalam shalat subuh yang bunyinya, allohummahdini fiiman hadaiit, wa’afiini fiiman ‘aafaiit, wa tawallani fiiman tawallait, wa baaariklii fiima a’thoiit, wa qiinni syarro maa qodlooiit. Innnaka taqdli wa laa yuqdlo ‘alaiik, innahu laa yadzillu ma wallait. Tabaarokta robbana wa ta’alaiit. (HR al-Baihaqi).

Di dalam hadits lain diriwayatkan bahwa setelah nabi melakukan ruku’ di dalam shalat subuh pada rekaat yang kedua, nabi selalu berdo’a dengan doa ini, allhummahdinii fiiman haadaiit, wa ‘aafinii fiiman ‘aafaiit (al-jaami’us shoghiir, Imam Suyuti).

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa pendapat ulama yang bermadzhab Syafi’i adalah yang paling kuat. Yaitu hukum qunut itu sunnah. Dan disunahkan melakukan sujud sahwi bagi yang meninggalkannya. Namun shalat seseorang tidak dikatakan batal jika ia meninggalkan qunut. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: