Bersalaman Setelah Shalat, Apakah Islam Membolehkannya ?

Hukum asal dari bersalaman adalah sunnah. Imam Nawawi berkata, “ketahuilah! sesungguhnya bersalaman itu hukum aslinya sunnah, berlandaskan atas kesepakatan para ulama ketika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya”. (fafthul baari). Sedangkan Ibnu Bathol mengatakan bahwa dasar hukum bersalaman adalah kebaikan menurut para ulama. (fathul baari).

Para ulama ahli fiqh telah menyatakan bahwa bersalaman hukumnya sunnah. Adapun dalil yang mereka jadikan sandaran adalah riwayat dari Ka’b bin Malik, ia berkata, “pada suatu hari aku masuk ke dalam masjid -yang di dalamnya ada Rasulullah SAW-. Lalu Tolhah bin Ubaidilah tiba-tiba berdiri mengajak bersalaman kepadaku seraya mengucapkan selamat”. (HR Ahmad, Bukhori, dan Muslim).

Dari Qottadh, ia berkata, aku bertanya kepada Anas, “apakah bersalaman itu termasuk perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat?”, ia menjawab, “banar”. Riwayat lainnya dari ‘Atho’ bin Abi Muslim ‘Abdullah al-Khurasani, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “saling bersalamanlah dan saling memberi hadiah kalian!, karena hal itu dapat menghilangkan kedengkian dan rasa benci diantara kalian”. (HR Malik).

Adapun bersalaman setelah selesai shalat, tidak ada seorang ulamapun yang mengharamkannya. Namun sebaliknya, mereka menyatakan kesunahannya, dan menggolongkan perbuatan ini kedalam bid’ah hasanah (perbuatan baik) atau bid’ah mubahah (perbuatan yang dibolehkan).

Imam Nawawi mengatakan bahwa apabila sebelum shalat mereka belum bersalaman, maka besalaman setelah shalat termasuk bid’ah hasanah. Akan tetapi apabila mereka telah bersalaman sebelumnya, maka ini termasuk bid’ah mubahah. (al-majmu’ alfatwa).

Al-Khaskafi mengatakan bahwa bersalaman setelah shalat itu boleh hukumnya. Perbuatan itu termasuk bid’ah yang baik -sebagamana dikatakan oleh Imam Nawawi di dalam kitab adzkarnya- (khasyiyah Ibnu ‘Abidin). Para ulama mengatakan bahwa bersalaman itu hukumnya boleh.

Diriwayatkan dari Abi Jahifah, ia berkata, “pada suatu hari Rasulullah SAW mengadakan perjalan ke Batha’, lalu nabi berwudlu untuk melaksanakan shalat dzuhur dua rekaat. Setelah selesai, banyak orang yang berdiri saling berebutan mencium tangan nabi, lalu mengusapkannya di wajah-wajah mereka”. Abu Jahifah menggatakan, “aku juga mengambil tangan beliau, lalu aku meletakkan tangannya yang mulia di wajahku. Dan tangan nabi terasa lebih dingin dari pada es, dan baunya lebih harum dari pada minyak misik”. (HR Bukhori). Al-Mukhin at-Thobari mengatakan, “berdasarkan hadits ini, para ulama menyatakan untuk membolehkan melakukan salaman setelah melakukan shalat berjama’ah”.

Adapun ‘Iz bin Abdissalaam setelah membagi bid’ah menjadi 5 bagian yaitu bid’ah wajibah, muharromah, makruuhah, mustahabbah, mubaahah, lalu ia mengatakan bahwa diantara contoh dari bid’ah yang mubah adalah bersalaman setelah melaksanakan shalat Maghrib dan shalat Asar. (qowa’idul ahkam fii masholikhil anaam).

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa orang yang menolak pendapat ini berarti ia belum memahami penjelasan di atas, atau ia tidak sedang berjalan di atas jalan para penuntut ilmu. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: