Berdzikir Menggunakan Tasbih, Bagaimana Hukumnya?

Tasbih adalah suatu alat yang dipakai untuk menghitung jumlah dan bilangan dzikir. Memakai tasbih lebih utama dari pada menghitung bilangan dzikir dengan menggunakan jari tangan. Karena berdzikir dengan tasbih akan membuat hati menjadi fokus. Adapun hadits nabi yang menunjukkan kebolehan menggunakan tasbih adalah diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqos rodliyallahu ‘anh, pada suatu hari Sa’ad bersama dengan Rasulullah masuk kedalam rumah seorang wanita yang ditangannya ada batu kerikil yang ia gunakan untuk berdzikir.

Melihat hal itu Rasulullah SAW bersabda, “aku beitahukan kepadamu cara berdzikir yang lebih mudah dan yang lebih utama, bacalah dzikir ini!, subhaalallah ‘adada maa kholaqo fis samaa’, wa subhaanallah ‘adada ma kholaqo fil ardli, wa subhaanallah ‘adada ma baina dzaalik, walhamdulillah, allahu akbar, laailaa ha illah, laa haula wala quwwata illa billah mitslu dzalik (Maha Suci Allah sebanyak apa-apa yang ada di langit. Maha suci Allah sebanyak apa-apa yang ada di bumi. Maha suci Allah sebanyak apa-apa yang ada diantara langit dan bumi. Segala puji bagi Allah, Allah maha besar, tiada tuhan selain Allah, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali kekuatan dari Allah) (HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Hakim).

Hadits ini menunjukkan bahwa nabi Muhammad tidak melarang untuk menggunakan biji-bijian atau batu kerikil sebagai alat untuk menghitung jumlah dan bilangan dzikir. Akan tetapi nabi menunjukkan cara yang lebih baik dan yang lebih mudah. Jika menggunakan batu kerikil dan tasbih hukumnya makruh, maka nabi akan mengatakannya, namun nabi tidak mengatakannya.

Berdasarkan hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa boleh hukumnya menggunakan tasbih sebagai alat untuk membantu berdzikir mengingat Allah. Dan penggunaan tasbih dianjurkan ketika berada di luar shalat. Karena menggunakan tasbih di dalam shalat berarti menambah suatu perbuatan di dalam shalat -yang dimakruhkan-.

Sangat banyak riwayat dan hadits yang menunjukkan kebolehan menggunakan tasbih. Diriwayatkan dari al-Qosim bin ‘Abdirrohman, ia berkata, “Abu Darda’ memiliki biji-bijian yang berjumlah 1000 biji yang diletakkan di dalam sebuah wadah, dimana beliau senantiasa bertasbih dengan menggunakan biji-bijian itu dengan mengeluarkannya satu-persatu. Jika telah habis, maka ia akan mengembalikannya satu-persatu sambil berdzikir. (Imam Ahmad).

Diriwayatkan dari Na’im bin al-Muharror bin Abi Huroiroh, ia berkata, “Abu Huroiroh memiliki kain yang memiliki 1000 ikatan. Dan ia tidak akan tertidur sebelum bertasbih dengannya. (khilyatul auliya’). Dan masih banyak riwayat-riwayat lainnya dari para sahabat dan tabi’in diantaranya Sa’ad bin Abi Waqos, Abi Sa’id al-Khudri, sayyidah Fatimah, dan lain sebagainya.

Para ulama telah mengarang banyak kitab yang membahas kebolehan menggunakan tasbih untuk berdzikir. Diantaranya adalah al-Hafidz imam Jalaluddin as-Suyuti yang mengarang kitab alminkhah fis sabkhah, Syekh Muhammad bin ‘Alan as-Shodiqi yang mengarang kitab iqodzul mashobih limasyruu’iyyati ittikhodzil mashobih, dan Imam Abu Hasanat yang mengarang kitab yang berjudul nuzhatul fikri fi sabkhatidz dzikri.

Seorang ulama yang bermadzhab Syafi’i -Ibnu Hajar al-Haitami- pernah menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai apakah tasbih itu memiliki landasan dan dalil dari hadits. Beliau menjawab bahwa menggunakan tasbih memiliki landasan dan dasar hukumnya. Imam Suyuti telah mengarang kitab yang membahas permasalahan tersebut lengkap beserta dalil-dalilnya.

Diantara dalil-dalil itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodliyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “aku melihat nabi Muhammad SAW mengikatkan tasbih di tangannya”. Kemudian riwayat dari Shofiyah rodliyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah SAW masuk ke dalam rumahku dan di tanganku ada 4000 biji yang sedang aku gunakan untuk bertasbih”. Lalu nabi bertanya, “apa ini wahai anak perempuan!”, “aku memakainya untuk berdzikir”. Lalu nabi berkata, “aku telah berdzikir lebih banyak dari dzikirmu sejak aku berdiri di hadapanmu”. Sofiyah berkata, “ajari aku wahai nabi!”, “ucapkanlah subhaanallah ‘adada ma kholaqo min syai’in (aku bertasbih kepada Allah sebanyak ciptaan-Nya”.

Seorang ulama madzhab Hanafi -Ibnu ‘Abidin- mengatakan bahwa tidak apa-apa menggunakan tasbih. Dalil yang membolehkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Turmudzi, an-Nasa’i, dari Sa’ad bin Abi Waqos, bahwasanya beliau bersama dengan Rasululah masuk kedalam rumah seorang wanita yang ditangannya ada biji-bijian yang ia gunakan untuk bertasbih.

Lalu nabi bersabda, ukhbiruki bima huwa aysaru ‘alaiki min hadzza wa afdhol (aku beritahukan kepadamu cara yang lebih baik dan yang lebih mudah dari pada ini) kemudian beliau menyebutkan caranya”. Mengenai hadits ini, Imam as-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan hukum berdzikir menggunakan biji atau kerikil, begitu pula dengan menggunakan tasbih -karena tidak ada perbedaan antara keduanya-. Ini karena nabi Muhammad tidak melarangnya. Beliau hanya menunjukkan cara yang lebih mudah dan yang lebih utama. Dan petunjuk nabi pada cara yang lebih utama tidak berarti meniadakan kebolehan berdzikir dengan biji-bijian.

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa berdzikir dengan menggunakan tasbih hukumnya boleh. Dan disunahkan bagi orang yang ingin berhati-hati menjaga jumlah bilangan dzikir agar hatinya lebih fokus pada penghayatan makna bacaan dzikir, dan bukan pada bilangan dzikirnya. Walllahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: