Pendapat Para Ulama Tentang Melihat Nabi Muhammad SAW Dalam Keadaan Tidur Dan Terjaga

Permasalahan bermimpi dan melihat nabi Muhammad SAW bukanlah permasalahan syareat yang dapat menyebabkan seseorang mendapatkan nilai lebih secara agama. Namun hal ini adalah masalah yang mungkin terjadi yang menuntut tanggung jawab bagi orang yang mengaku-aku melihat nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya bermimpi dan melihat nabi dalam keadaan sadar adalah bagian dari berita gembira dan karunia dari Allah SWT. Dan ini merupakan bagian dari sebuah karomah (kemuliaan). Bermimpi melihat nabi Muhammad SAW dapat terjadi meskipun nabi sudah tiada. Namun ini tidak menyebabkan seseorang menjadi sahabat nabi.

Selanjutnya kita akan membahas apakah permasalahan melihatnya seseorang kepada nabi dalam keadaan sadar itu mustahil (tidak mungkin) secara akal atau tidak?. Hal yang mustahil adalah adanya suatu benda yang berada di dua tempat dalam satu waktu. Dan seseorang yang melihat nabi, tidak akan menyebabkan nabi berada di dua tempat yang berbeda dalam satu waktu.

Nabi Muhammad SAW berada di roudloh (makam) nabi yang mulia. Disanalah nabi hidup dan senantiasa melaksanakan shalat, menyembah kepada Allah, dan mendapatkan kenikmatan beribadah -sebagaimana yang terjadi pada para nabi dan rasul yang lain-. Mereka senantiasa hidup di dalam kubur mereka.

Dari sahabat Anas rodliyallahu ‘anh, nabi SAW bersabda, al-anbiyaa’ ahyaa’ fii quburihim yushollun (nabi-nabi Allah hidup di dalam makam-makamnya, dan mereka senantiasa melaksanakan shalat) (Ad-Dailami, Abu Ya’la).

Hadits ini dikuatkan dengan sabda nabi Muhammad, marortu ‘ala musa lailata usriya bii ‘indal katsiibil ahmar, wa huwa qoo’imun yusholli fii qobrihii (aku melewati Musa pada saat aku di isro’kan, sementara ia sedang melaksanakan shalat di atas kuburnya) (HR. Ahmad, Muslim, An-Nasa’i).

Sesungguhnya kejadian melihatnya seseorang kepada nabi Muhammad SAW dapat diterima secara akal. Hal ini dikuatkan dengan apa yang terjadi pada sahabat Umar Bin Khottob. Pada suatu hari ketika sayyidina Umar bin Khottob sedang berkhuthbah, tiba-tiba Allah membuka mata hatinya, sehingga ia bisa melihat panglima perang utusannya yang bernama Sariah sedang berperang melawan orang kafir di Nahawan, negara Persi.

Ini adalah sebuah karomah yang diberikan Allah kepada para kekasih-kekasih-Nya Lalu Umar berteriak kepada Sariah di dalam khutbahnya, “Hai Sariah, gunung! gunung!”, bermaksud memberitahukannya untuk berlindung dengan gunung itu (diriwayatkan oleh Thabari di dalam kitab taarikh thobari).

Apabila hal itu bisa terjadi pada selain nabi -yaitu Umar-, maka hal itu juga tidak hanya terbatas pada Umar Bin Khottob atau hanya terjadi pada para sahabat saja. Begitu pula dengan orang yang dilihat -tidak hanya terbatas pada Sariah-, tetapi boleh terjadi pada selain Sariah.

Ketika seseorang melihat nabi Muhammad, kemungkinan ia melihat gambar bentuk nabi Muhammad SAW. Sedangkan nabi Muhammad yang sesungguhnya berada di roudloh. Ketika seseorang melihat nabi, ia sedang melihat gambar dan bentuk nabi Muhammad yang mulia yang dinamakan dengan suroh alam mistal (gambar perumpamaan).

Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sedang dikuasai cinta yang mendalam atau terlalu memikirkan sosok dan kepribadian nabi Muhammad SAW.

Ada hadits nabi yang menguatkan kemungkinan seseorang dapat menyaksikan nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar. Dari Abu Huroiroh rodliyallahu anh, ia berkata, “aku mendengar nabi Muhammad SAW bersabda, man ro’ani fil manaami fa sayaroonii fil yaqdhoh. Wa laa yatamatsslus syaithoonu bii (barang siapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar) (Bukhari, Abu Dawud).

Hadits ini menunjukkan kemungkinan bahwa Rasul dapat dilihat oleh seseorang dalam keadaan sadar. Adapun pengkhususan ‘melihat dalam keadaan sadar’ pada saat nanti di hari kiamat, adalah pengkhususan yang sangat jauh dari makna hadits. Hal ini karena beberapa alasan yaitu:

  1. Semua manusia dan seluruh umat akan melihat nabi Muhammad di hari kiamat -baik yang sudah melihat nabi Muhammad di dalam mimpi maupun yang belum-.
  1. Hadits ini tidak menunjukkan adanya pengkhususan pada hari kiamat. Sedangkan kita tidak boleh mengkhususkan suatu dalil jika tidak ada dalil lain atau petunjuk tertentu yang menunjukkan dikhususkannya makna hadits ini. Dan tindakan pengkhususan hadits tanpa adanya dalil yang mengkhususkan merupakan bentuk pelanggaran.

Sesungguhnya permasalahan bermimpi dan melihat nabi Muhammad SAW telah banyak dibicarakan pada zaman Imam as-Suyuthi. Kemudian beliau terdorong untuk mengarang sebuah kitab yang diberi nama tanwiirul khalq fii imkaani ruyatin nabiiy wal malak.

Di dalam pendahuluan kitab ini beliau berkata, “banyak sekali pertanyaan yang muncul mengenai orang-orang soleh yang mengaku melihat nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar. Dan ada sebagian kelompok yang tidak begitu dalam ilmunya, berlebih-lebihan dalam mengingkari hal ini. Mereka sangat heran dengan perkara ini dan menganggapnya mustahil. Atas dasar inilah aku mengarang sebuah buku yang aku namakan tanwiirul khalk fii imkaani ruyatin nabiiy walmalak”.

Di dalam kitab itu Imam Suyuti banyak menjelaskan mengenai dalil-dalil dan bukti yang menerangkan tentang kebolehan peristiwa melihat nabi dalam keadaan sadar. Begitu juga dengan kemungkinan mendengarnya seseorang kepada suara nabi Muhammad SAW dan Malaikat Allah yang mulia.

Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “ada sebagian kelompok yang mengharamkan hal itu, namun ada juga kelompok yang membolehkannya. Kelompok yang membolehkan bersandarkan pada hadits nabi, ‘barang siapa yang melihatku di dalam tidurnya, ia akan melihatku dalam keadaan sadarnya’. Sesungguhnya pendapat yang mengatakan ‘kemungkinan melihat nabi dalam keadaan sadar itu terjadi nanti ketika hari kiamat’ adalah jauh dari makna hadits. Karena apabila demikian, maka pengkhususan dalam keadaan yaqdloh (sadar) di dalam hadits itu tidak ada fungsinya, kerena semua manusia akan melihat nabi Muhammad SAW pada hari kiamat -baik yang pernah melihat nabi dalam keadaan tidur, maupun yang belum pernah melihatnya-.

Dan di dalam kitab syarkh Ibnu Abi Jumroh, Ibnu Hajar menyatakan tetapnya hadits ini dalam keadaan umum -yaitu baik nabi dalam keadaan hidup maupun sudah wafat-. Barang siapa yang mengkhusukan hadits ini tanpa disertai petunjuk yang mengkhususkannya, ia telah melakukan pelanggaran.

Karena dengan melakukan perbuatan itu berarti ia tidak mempercayai akan kekuasaan Dzat yang maha berkuasa. Dan ia juga ingkar tentang adanya karomah yang dianugerahkan Allah kepada kekasih-kekasih-Nya.

Imam An-Nafrowi al-Maliki mengatakan bahwa boleh hukumnya melihat nabi Muhamad SAW dalam keadaan sadar dan tidak sadar/tidur -dengan berlandaskan ijma’ (kesepakatan) para Imam ahli hadits-. Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai apakah mereka melihat dzat nabi Muhammad yang mulia secara nyata ataukah mereka hanya melihat permisalan/gambar yang tidak nyata.

Dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat yang pertama adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa mereka melihat dzat nabi secara nyata. Dan pendapat yang kedua yang diwakili oleh Imam al-Ghozali, al-Qorofi, dan al-Yaafi’i mengatakan bahwa yang dilihat adalah bayangan dan permisalan dari wujud nabi Muhammad SAW.

Kelompok yang pertama menggunakan dalil bahwa nabi Muhammad adalah lampu hidayah, cahaya petunjuk, dan matahari kema’rifatan. Ketika ia melihat nabi Muhammad, maka ia seperti sedang menyaksika cahaya atau lampu. Ketika seseorang melihat cahaya matahari, maka ia sedang melihat cahaya yang bersumber dari dzat dan jasad matahari. Sebagaimana jasad nabi Muhammad SAW juga tidak pernah berpisah dengan makamnya, roudloh yang mulia.

Sesungguhnya Allah SWT dengan izin-Nya membakar semua hijab dan penutup yang menghalangi orang itu, sehingga ia dapat melihat nabi Muhammad SAW dari jarak yang sangat jauh.

Ibnu Abil Hajj berkata di dalam kitab al-Madkhol, “ada sebagian orang yang mengaku melihat nabi Muhammad dalam keadaan sadar. Ini adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi. Dan ketika peristiwa ini terjadi, pasti dialami oleh orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang mulia yang lahir dan bathinnya dijaga oleh Allah SWT”.

Syekh ‘Alisy juga berkata mengenai permasalahan ini. Beliau mengatakan bahwa melihat nabi Muhammmad berfungsi untuk menguatkan pendapat para ulama yang memiliki kemampuan berijitihad. Beliau berkata, “aku mendengar guruku sayyid Ali al-Khowas berkata bahwa tidak mungkin ada pendapat para ulama ahli ijtihad yang keluar dari hukum syareat, sebab mereka adalah orang-orang yang memahami kandungan al-Qur’an, al-Hadits, dan perkataan para sahabat. Bahkan ruh mereka dapat berkumpul dengan ruh Rasulullah SAW.

Ketika mereka menemukan kesulitan, maka mereka akan langsung bertanya kepada Rasulullah SAW. Apabila mereka diliputi keraguan mengenai suatu hadits, mereka akan bertanya pada nabi, “apakah ini termasuk perkataanmu atau tidak wahai Rasulullah!”. Mereka juga akan bertanya padanya mengenai makna suatu ayat al-Qur’an maupun al-Hadits sebelum mereka menuliskannya di dalam kitab mereka, mereka bertanya kepada Rasulullah, “bahwa kami memahami ayat ini begini, dan kami memahami hadits ini begini. Apakah engkau meridloinya wahai Rasul?!”. Dan ini semua adalah bagian dari karomah dan kemuliaan para kekasih Allah SWT. (diambil dari kitab fathul ‘aliyyil malik).

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa peristiwa melihat nabi bagi sebagian orang bisa terjadi. Tidak ada larangan dari segi akal maupun nash al-Qur’an dan al-Hadits. Namun ini adalah peristiwa yang agung yang tidak mungkin dialami oleh sembarang orang.

Barang siapa yang diberi anugerah melihat Rasulallah dalam keadaan sadar hendaknya ia tidak menceritakannya kepada orang yang tidak kuat mendengarnya. Karena berbicara kepada manusia dengan apa yang mereka pahami itu lebih baik. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: