Apakah Anda Termasuk Orang Yang beruntung?

Setiap manusia tidak ingin dirinya celaka. Semuanya ingin menjadi orang-orang yang beruntung. Beruntung di dalam keuangan, perjodohan, karir, jabatan, dan kehidupan sosial. Setiap hari mereka berlomba-lomba untuk menjadi orang yang beruntung.

Ingin menjadi orang yang beruntung itu baik apabila disertai dengan niat yang baik pula. Ia ingin beruntung dalam keuangan agar ia menjadi hartawan yang dermawan. Ia ingin beruntung dalam hal membangun keluarga sakinah mawadah warahmah, mendidik putra-putri mereka agar menjadi hamba-hamba yang taat kepada Allah dan Rasulullah. Ia ingin beruntung dalam jabatannya agar dengan jabatannya ia bisa membantu orang-orang yang terdzalimi dan menegakkan keadilan dengan seadil-adilnya.

Namun kebanyakan orang hanya ingin mencari keberuntungan sesaat. Mereka hanya memikirkan agar ia beruntung bagi dirinya, bagi nafsunya sendiri. Oleh karena itu seringkali mereka melakukan apa saja demi mendapatkan keberuntungan yang diidam-idamkannya. Ia rela mengorbankan agamanya untuk kepentingan dan kenikmatan sesaat. Ia rela menyuap, berbohong, mendzalimi, pergi ke dukun, memutuskan hubungan silaturrahim, dll.

Mereka lupa dengan keberuntungan yang hakiki yang seharusnya mereka cari. Keberuntungan yang tiada duanya. Keberuntungan yang tidak bisa digambarkan oleh akal pikiran setiap manusia. Keberuntungan yang tidak akan habis dan hancur oleh waktu. Keberuntungan yang dicita-citakan oleh orang-orang yang shaleh. Itulah keberuntungan berada di dalam surga Allah SWT.

Mereka akan terus tergila-gila dengan keberuntungan yang tak kekal itu, selama mata hatinya belum terbuka. Mata hati yang belum terbuka tidak akan menyaksikan bagaimana keberuntungan berada di dalam surga. Ia hanya melihat dengan mata kepalanya yang tidak bisa menembus apa-apa yang dilihat oleh mata hati. Mata kepala hanya akan melihat keindahan dunia, tetapi mata hati bisa melihat keindahan Allah dan makhluk-makhluk-Nya. Mata hati, ketika melihat dunia tidak melihatnya indah, tetapi itu semua adalah cobaan dimana seorang muslim tidak boleh tergiur dengnnya.

Apabila ia sampai tergiur dengan keindahan dunai maka ia akan celaka. Meskipun secara kasat mata ia beruntung, tetapi hakikatnya ia adalah orang yang celaka. Ia tidak mengingat Allah di dalam keberuntungan dunia yang dilimpahkan Allah padanya. Ia asyik bermain-main dengan kekuasaan, kehormatan, kekayaan, dan jabatannya. Ketika beribadah kepada Allah ia hanya sekedar mengerjakannya sebatas rutinitas ritual, karena hatinya tidak merasakan keberadaan dan pengawasan Allah SWT.

Allah berfirman,

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. Al-Ma’un: 4-5).

Keberuntungan akan menjadi keberuntungan jika ia menyadari sepenuhnya bahwa keberuntungan itu semata-mata karunia dari Allah yang harus digunakan sebagaimana mestinya. Ia selalu berusaha agar keberuntungan dunia yang telah didapatkannya bisa digunakan untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih besar -yaitu keberuntungan akhirat yang kekal nan abadi-.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ditakdirkan Allah untuk menjadi orang yang beruntung, Amiin Yaa Rabbal Aalamiin

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: