Membangun Yang Bukan Akhlak, Itu Menghancurkan

Allah mengetahui bahwa umat manusia membutuhkan perbaikan akhlak, sehingga Ia mengutus Rasulullah SAW. Nabi Muhammad mendapatkan tugas dari Allah untuk memperbaiki akhlak umat manusia.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأِتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ

Aku hanya diutus untuk memperbaiki akhlak (HR. Ahmad).

Perjuangan Rasulullah SAW yang dilakukan terus-menerus akhirnya membuahkan hasil. Akhlak bangsa Arab yang buruk itu perlahan-lahan menjadi baik. Mereka tidak lagi bertelanjang ketika melakukan thawaf, mereka meninggalkan tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup, mereka menjauhi khamr yang merusak akal pikiran, mereka meninggalkan kebiasaan mereka menikah dengan banyak perempuan.

Muhammad adalah nabi terakhir yang ditugaskan Allah menjadi Rasul bagi seluruh umat. Oleh karena itu dengan izin Allah, Syiar Islam menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Mereka yang percaya kepada Rasulullah dan mematuhi perintahnya pasti memiliki akhlak yang mulia. Akhlak Rasululah yang mulia menular kepada semua orag yanng mencintainya, keluarganya, para sahabat, tabi’in, ulama, sampai kaum muslimin yang hidup zaman ini.

Masyarakat yang memiliki akhlak yang mulia menunjukkan bahwa masyarakat itu telah tersentuh oleh dakwah nabi Muhammad -langsung atau tidak langsung-. Dan semua hal yang tersentuh oleh nabi Muhammad pasti akan mulia. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya, kemuliaan yang tidak hanya dirasakan di dunia tapi juga di akhirat kelak.

Namun, kebanyakan orang tidak memahami hakikat kemuliaan. Mereka mengatakan bahwa masyarakat yang mulia adalah masyarakat yang maju peradaban, ekonomi, pembangunan, dan teknologinya. Oleh karena itu mereka terus membangun kemajuan duniawi tetapi lupa untuk membangun akhlaknya. Anak-anak didik mereka ajari dengan keterampilan dan ilmu-ilmu dunia tanpa menghiraukan ilmu agama. Sesungguhnya mereka sedang tidak membangun, tetapi sedang menghancurkan.

Apabila kemerosotan akhlak terjadi dimana-mana seharusnya kita tidak menyalahkan siapa-siapa karena kita sendirilah yang menciptakan kondisi ini. Akhlak nabi Muhammad tidak pernah kita bicarakan di dalam kelurga kita. Akhlak para sahabat tidak ada di sekolah-sekolah. Akhlak para ulama tidak diceritakan di tempat-tempat kerja. Semuanya sedang mengejar kehidupan yang tak kekal. Semuanya sedang tergiur dengan gemerlap dunia.

Lihatlah akhlak para pemuda dan pemudi zaman ini, mereka adalah orang islam tetapi tidak seperti orang islam. Mereka adalah umat Muhammad tetapi tidak seperti umat Muhammad. Kalakuan mereka jauh dari ajaran agama islam. Tindakan mereka jauh dari tuntunan Rasulullah SAW. Akankah kita diam saja dengan fenomena ini, atau kita juga malah larut dalam kondisi ini, na’uudlubillah.

Zaman memang telah mendekati akhir. Semua yang tampak adalah bagian dari tanda-tanda akhir zaman yang harus diambil pelajarannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang masih menjaga akhlak di saat banyak orang tidak mengindahkan akhlak. Amiin Yaa Rabbal Aalamin.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: