Membuang Sifat-Sifat Manusiawi Karena Ingin Mendengar Panggilan Tuhan (Hikmah ke-tigapuluh empat)

Membuang Sifat-Sifat Manusiawi Karena Ingin Mendengar Panggilan Tuhan  (Hikmah ke-tigapuluh empat)

أُخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَاءَاتِ الْحَقِّ مُجِيْبًا وَ مِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا

Keluarlah dari sifat-sifat manusiawimu -yang berlawanan dengan sifat-sifat kehambaanmu-, agar engkau dapat menjawab panggilan Tuhanmu sehingga engkau menjadi dekat dengan-Nya

Sifat-sifat manusia ada yang dzahir (baca: perbuatan anggota badan) dan yang batin (baca: perbuatan hati). Sifat-sifat itu adakalanya masuk dalam kategori taat dan adakalanya masuk dalam kategori maksiat.

Apabila batinnya baik, maka dzahirnya juga akan baik. Sesungguhnya batin itu bagaikan raja dan anggota badan bagaikan prajurit yang tidak akan mungkin berani membantah perintah sang raja.

Untuk memperbaiki batin/hati dengan cara membersihkannya dari sifat-sifat yang bertentangan dengan sifat hamba. Diantara sifat-sifat yang harus dihilangkan adalah sombong, riya’, ujub, dengki, dan lain-lain.

Setelah sifat-sifat itu hilang, kemudian hati dihiasi dengan sifat-sifat yang mulia yang dapat mendekatkannya kepada Allah diantaranya; tawadhu’, lembut, ridlo, ikhlas, dan lain-lain.

Apabila seorang murid mampu berakhlak dengan sifat-sifat itu, maka Allah akan memanggilnya dan ia akan menjawab panggilan-Nya. Dan ini adalah bentuk kehambaan yang khusus. Karena kehambaan itu ada dua macam yaitu: kehambaan umum yang berlaku untuk semua hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. Maryam: 93).

Kehambaan umum untuk seluruh makhluk di langit dan di bumi, dan kehambaan makhluk yang dikhususkan Allah.

Apabila ia mampu menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela, maka ia akan dekat dengan hadhratillah. Yang dimaksud dengan hadlrotillah adalah perasaan seorang hamba yang berada di dalam pengawasan Allah SWT.

Barangsiapa yang telah mersakannya maka ia telah berada di dalam hadlrotillah, jika tidak maka ia berada di luar hadlrotuilah. Jalan menuju Allah ini tidaklah mudah, kecuali bagi orang-orang yang senatiasa mengawasi hatinya dan menyadari akan bahaya-bahaya penyakit hati.

Abdul majid As-Syarnubi, Syarkhu kitabil hikam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: