Jika Seseorang Mengaku Mencintai Allah, Maka Ia Pasti Mencintai Rasulullah

Jika Seseorang Mengaku Mencintai Allah, Maka Ia Pasti Mencintai Rasulullah. Cinta kepada nabi Muhammad adalah ekspresi cinta kepada Allah SWT. Barang siapa yang mencintai raja, ia akan mencintai utusannya. Dan utusan Allah adalah kekasih Allah. Dialah yang mendatangkan kebaikan kepada kita semua.

Dialah yang menanggung beban dan tugas mulia untuk memasukkan umat manusia kedalam agama Islam. Allah SWT telah menjelaskan bagaimana kedudukan dan nilai cinta kepada nabi Muhammad SAW yang muncul dari dalam hati setiap muslim -yang akan menjadikannya seorang muslim yang sempurna-.

Nabi Muhammad SAW bersabda, walladzi nafsi biyadihi, la yu’minu ahadukum hatta akuuna ahabbu ilaihi min waalidihi wawalidihi wannasi ajma’iin (demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya!, tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian, sampai aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan semua manusia) (HR. Ahmad, Bukhari).

Dari Zuhroh bin Ma’bad, dari kakeknya, beliau berkata, “ketika kami berada di depan Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau memegang tangan Umar bin Khotob. Kemudian Umar berkata, “demi Allah!, sesungguhnya engkau wahai Rasulullah! lebih aku cintai dari pada segala sesuatu, kecuali diriku. Nabi berkata, “tidak sempurna iman seseorang, sampai aku lebih dicintainya dari pada dirinya”. Lalu Umar berkata, “sekarang engkau wahai Rasul! lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Nabi berkata, “sekarang wahai Umar!”. (HR Ahmad dan Bukhori).

Ibnu Rojab al-Hambali berkata, “cinta kepada nabi adalah pondasi iman. Cinta rasul adalah pasangan cinta kepada Allah. Allah SWT telah mengancam orang yang mendahulukan cintanya kepada sesuatu melebihi cintanya kepada keduanya”. (dikutip dari kitab fathul bari).

Tidak sempurna iman seorang mukmin sampai rasa cintanya kepada nabi sama dengan besarnya cinta Umar kepada nabi. Inilah derajat cinta yang harus dicari oleh seorang muslim. Cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah tidaklah bertentangan, karena cinta kepada Rasulullah adalah bukti atas cinta seseorang kepada Allah SWT.

Sesungguhnya tidak ada seorang manusiapun yang ditampakkan baginya sifat jamal (bagus) dan kamal (sempurna)nya Allah melebihi yang ditampakkan kepada nabi Muammad SAW. Kita semua mencintai penampakan cahaya ilahi. Sedangkan nabi Muhammad adalah adalah cermin yang akan memantulkan cahaya ilahi itu kedalam cermin-cermin hati kita. Cinta itu hanya kepada Allah. Sedangkan cinta kepada Rasulullah dengan segenap hati adalah cinta kepada Allah itu sendiri. Tidak ada pertentangan antar keduanya.

Mari kita memohon kepada Allah SWT agar Ia senantiasa meletakkan dalam lubuk hati kita rasa cinta yang dalam kepada nabi Muhammad SAW seperti cintanya Umar bin khottob kepada beliau. Amiin ya robbal alamiin.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: