Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah Mengenai Tafsir Ibnu Taimiyyah Terhadap Sifat-Sifat Allah

Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah Mengenai Tafsir Ibnu Taimiyyah Terhadap Sifat-Sifat Allah. Kita telah mengetahui bahwa penjelasan kelompok ahlussunnah mengenai permasalahan aqidah (iman kepada Allah dan sifat-sifat-Nya) dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan antara al-mu’atthilah (kelompok yang meniadakan sifat-sifat Allah) sebagaimana golongan mu’tazilah, dengan al-mujassimah (kelompok yang terlalu berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat bagi Allah) sehingga menimbulkan penyerupaan Allah dengan makhluk.

Pada masa ini kelompok mu’tazilah yang menyebarkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam telah tiada, begitu pula dengan kelompok mujassimah. Tetapi yang ada pada saat ini adalah kelompok yang sejalan dengan pemikiran Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya -seperti Ibnu Qoyyim rohimahumallah- di dalam menafsirkan apa itu madzhab salaf.

Para pengikut Ibnu Taimiyyah pada masa lalu tidak pernah membentuk suatu golongan yang menyebabkan perpecahan dan fitnah dikalangan umat Islam. Fitnah itu baru muncul setelah adanya tindakan yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahab yang menyerukan agar menghidupkan kembali madzhab Ibnu Taimiyyah dan menjadikannya sebagai aqidah dan pedoman hidup, karena beliau menganggap bahwa pemikiran Ibnu Taimiyyah adalah madzhab ahlussunnah wal jama’ah yang merupakan madzhabnya ulama salaf (zaman dahulu). Oleh karena itulah mengapa para pengikut Ibnu Taimiyyah menyebut diri mereka dengan istilah salafiyah atau as-salafiyun.

Sebentar lagi kami akan menjelaskan aqidah ahlussunnh wal jama’ah yang benar, kemudian kami akan menerangkan kesalahan Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya ketika memahami makna salaf. Pada hakekatnya perbedaan antara madzhab ahlussunnah dan madzhab Ibnu Taiymiyyah terletak pada perbedaan pemahaman mengenai sifat-sifat yang ditetapkan pada Dzat Allah SWT -yang diistilahkan dengan as-sifaat al-khobariyyah-.

Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa sebagian lafadz yang ada di dalam al-Qur’an yang bertutur mengenai sifat-sifat Allah harus tetap pada makna al-haqiqoh al-lughowiyah (hakekat maknanya dari segi bahasa).

Hal ini tentu tidak bisa dibenarkan, karena pemahaman dengan al-haqiqoh al-lughowiyah dapat menyebabkan pemahaman yang mengarah pada penyerupaan sang Kholiq dengan makhluk. Disamping itu hal ini juga bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa Allah berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya.

Sementara madzhab ahlussunnah wal jama’ah meyakini bahwa lafadz-lafadz di dalam al-Qur’an yang berbicara mengenai sifat-sifat Allah tidak boleh diartikan dengan makna bahasa, karena lafadz-lafadz itu termasuk ke dalam kategori ayat al-Qur’an yang mutasyabih (yang tidak jelas maknanya).

Madzhab ahlussunnah berpendapat bahwa sifat-sifat ini tidak boleh ditetapkan bagi Allah dengan pemahaman akal, akan tetapi ia harus ditetapkan dengan pemahaman syareat (al-Qur’an dan al-Hadits). Adapun metode yang ditempuh adalah sifat-sifat Allah yang diberitakan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits itu mereka serahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah SWT.

Mereka tidak berani untuk meneliti dan mencari-cari maknanya secara mendalam. Mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa sifat-sifat Allah ini harus dipahami dengan al-haqiqoh al-lughowiyah. Mereka juga tidak mengingkari semua yang dikatakan al-Qur’an mengenai sifat-sifat Allah itu. Namun penetapan sifat-sifat Allah dengan al-haqiqoh al-lughowiyah itu bertentangan dengan kemahasucian Allah SWT.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, “sifat-sifat Allah yang ada di dalam al-Qur’an maupun al-hadits wajib kita imani sepenuhnya. Kita harus menerimanya dan kita serahkan maknanya kepada Allah SWT. Kita tidak boleh menolaknya, mencari-cari maknanya, atau mencoba untuk menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk.

Semua lafadznya wajib kita terima dan meninggalkan tindakan untuk memperdalam maknanya. Maknanya kita serahkan kepada Dzat yang mengatakannya, karena kita ingin megikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang dalam ilmunya yang telah dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an. Firman Allah,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan bahwa aku beriman kepada Allah karena semuanya berasal dari-Nya. (QS. Ali Imron: 7).

Dan Allah mencela orang yang mencoba untuk melakukan ta’wil (mencari-cari maknanya). Firman Allah,

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihaat (tidak jelas) dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya. (QS. Ali Imron: 7).

Allah mengatakan bahwa melakukan ta’wil merupakan tanda kesesatan, dan kelanjutan ayat di atas, Allah berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ

Dan tidak akan mengetahui takwilnya kecuali Allah

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal rodliyallahu ‘anh menjelaskan mengenai hadits nabi, innallaha yanzilu ila samaa’ iddun-ya (sesungguhnya Allah itu turun ke langit dunia), wa innallah yuro fil qiyaamah (dan Allah itu bisa dilihat pada hari kiamat nanti), dan hadits-hadits lain yang serupa dengannya, bahwa kami mengimani dan membenarkannya, tanpa berusaha untuk mencari-cari bagaimana caranya.

Kami juga tidak menolak hadits-hadits itu karena kami percaya bahwa segala yang datang dari Rasulullah adalah benar, dan kami tidak menentang Rasulullah. Kami juga tidak mensifati Allah dengan sifat yang melebihi sifat-sifat yang telah dikatakan oleh Allah untuk mensifati diri-Nya sendiri. Firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya. Dan Dia maha mendengar lagi maha melihat. (QS. As-Syuura: 11).

Kita akan mengatakan sebegaimana yang difirmankan Allah SWT. Kita mensifati Allah sebagaimana Allah mensifati diri-Nya. Kita mengimani isi al-Qur’an semuanya -baik yang muhkam (jelas maknanya) dan yang mutasyabih (tidak jelas maknanya)-.

Kita juga tidak meniadakan salah satu sifat dari sifat-sifat-Nya, karena kita tidak menetang al-Qur’an dan al-Hadits. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi’i rodliyallahu anh mengatakan, “aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dan aku beriman kepada Rasulallah dan apa-apa yang dibawa olehnya sesuai dengan kehendak Rasulallah.

Dan di atas jalan inilah semua ulama ahlussunnah -baik salaf (pada masa awal) maupun ulama kholaf (pada abad akhir)- berjalan. Semuanya telah bersepakat untuk menetapkan dan mengimani semua sifat-sifat Allah yang ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, dengan tidak berusaha untuk mencari-cari maknanya”. (lum’atul i’tiqood al-hadi ila sabilir rosyaad, Ibnu Qudamah).

Keterangan di atas adalah metode yang dipakai oleh ulama ahlussunnah pada masa dahulu, yang dinamakan dengan istilah madzhab al-mutaqoddimun (madzhab ulama ahlussunnah zaman dahulu). Kemudian pada masa setelahnya muncul madzhab al-muta’akhkhirin (madzhab ulama ahlussunnah masa sekarang). Madzhab al-muta’akhkhirin menggunakan metode ta’wil ketika menjelaskan makna sifat-sifat Allah.

Menetapkan lafadz ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dapat menyebabakan pemahaman yang salah bagi yang mendengarnya, karena penetapan akan sifat-sifat Allah dapat mengarah pada pemahaman al-haqiqoh al-lughowiyah yang dapat mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk, yang akhirnya dapat memunculkan penyimpangan bahwa Allah juga memiliki badan layaknya manusia.

Adapun orang-orang yang memiliki pendapat bahwa Dzat Allah itu berbadan diantaranya Ibnu Karom, Ibnu Khuzaimah, dan Abu Utsman ad-Darimi. Sedangkan Ibnu Taimiyyah berbeda dengan mereka karena beliau tidak secara jelas mengatakan bahwa Allah itu berbadan. Akan tetapi Ibnu Taimiyyah melakukan tindakan penetapan atas sifat-sifat Allah SWT dengan pemahaman al-Haqioqoh al-lughowiyah -yang mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya-.

Kelompok ahlussunnah baik dari al-mutaqoddimin maupun al-muta’akhkhirin telah bersepakat untuk menerima semua sifat-sifat itu. Mereka tidak menetapkannya dengan pemahaman al-haqiqoh al-lughowiyah -yang dapat menyebabkan terjadinya penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya-.

Mereka mengatakan bahwa sifat-sifat Allah tidak boleh dipahami kecuali dengan sifat yang sesuai dengan kemaha agungan Allah SWT. Jadi seolah-olah mereka bekata kepada kelompok yang bertentangan dengannya ‘jika kalian berkeinginan untuk berbicara mengenai makna dari sifat-sifat Allah, maka katakanlah makna apa saja kecuali makna yang dapat mengurangi wibawa dan keagungan Allah SWT, bukan dengan makna yang akan menyerupakan-Nya dengan sesuatu yang lain’.

Apabila kalian menjumpai lafadz (عين) -yang berarti: mata- yang disematkan kepada Allah dalam ayat,

وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

Supaya engkau (Musa) diasuh di bawah pengawasan-Ku. (QS. Thoha: 39).

maka yang dimaksud dengan lafadz itu adalah pertolongan dan pengawasan Allah kepada nabi Musa ‘alaihissalaam. Jadi janganlah engkau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafadz عين itu adalah ‘mata’ secara al-haqiqoh al-lughowiyah (hakekat bahasa) yang menghendaki makna salah satu anggota badan, sehingga akan menyebabkan pemahaman bahwa Dzat Allah itu berbentuk badan.

Dari keterangan diatas maka dapat kami katakan bahwa madzhab salaf itu adalah mazhab i’tiqod (keyakinan), sedangkan madzhab kholaf adalah madzhab tandzir (yang menjelaskan).

Ulama ahlussunnah menjelaskan hadits nabi, yanzilu robbuna tabaroka wa ta’ala ila samaa’id dun-ya (Allah turun ke langit dunia), bahwa yang dimaksud dengan ‘turun’ pada hadits ini adalah ‘turunnya rahmat’ atau ‘terkabulnya do’a’.

Dan tidak mungkin yang dimaksud dengan kata ‘turun’ pada ayat ini adalah ‘turun’ yang dipahami dengan makna bahasa. Jika seperti itu maka maknanya akan menjadi ‘Dzat Allah turun’, yang berarti Allah bergerak dan berpindah. Sedangkan ‘bergerak’ dan ‘bepindah’ adalah sifat makhluk yang mustahil bagi Allah SWT.

Oleh karena itu metode yang dipakai oleh ahlussunnah adalah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana adanya dan tidak mencari maknanya. Atau dengan metode boleh mencari makna, tetapi yang sesuai dengan Dzat Allah yang maha agung -bukan dengan makna yang dapat mengurangi wibawa dan kemaha tinggian Allah a’zza wajalla.

Sedangkan firman Allah,

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

Bahkan kedua tangan-Nya memanjang. (QS. Al- Maidah: 64).

Yang dimaskud dengan ‘memanjangnya tangan’ pada ayat diatas adalah kebaikan, kemurahan, dan pemberian Allah yang tiada terputus. Karena makna-makna ini sesuai dengan sifat Allah yang maha agung.

Adapun lafadz يداه  apabila kita artikan dengan al-haqiqoh al-lughowiyah maka berarti ‘tangan’ seperi tangan pada badan makhluk. Dan makna ini tentu saja salah, karena menyebabkan penyerupaan Dzat Allah dengan makhluk-Nya.

Dari penjelasan diatas maka telah terbukalah pemikiran kita tentang siapa mereka ahlussunnah wal jama’ah. Semoga Allah SWT senantiasa mengumpulkan kita semua bersama mereka di dunia dan akherat. Amiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: