Meski Engkau Melihat Cahaya Dan Mengetahui Rahasia, Tujuan Ibadahmu Tetap Untuk Allah

Meski Engkau Melihat Cahaya Dan Mengetahui Rahasia, Tujuan Ibadahmu Tetap Untuk Allah. Kasyf dan futuuh adalah terbukanya rahasia-rahasia alam. Bagi para sufi, keduanya tidak terlalu bernilai. Mereka tidak pernah memiliki keinginan untuk mengetahui suatu rahasia ketika berjalan menuju Allah. Akan tetapi, terkadang Allah menyingkap rahasia-rahasia penduduk bumi, ilmu-ilmu bidang tertentu, dll kepada seorang wali. Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan -sedikit atau banyak- tidak akan memberikan manfaat apa-apa, kecuali apabila pengetahuan akan rahasia-rahasia tersebut menjadikannya semakin beradab kepada Allah SWT.

Apabila ilmu-ilmu itu tidak menjadikan seseorang beradab kepada Allah, maka orang itu dianggap sama dengan orang kafir. Hal ini karena orang kafir juga mengetahui banyak hal, tetapi pengetahuannya tidak mendatangkan manfaat baginya. Ilmunya tidak menyelamatkannya. Kasf dan futuuh yang baik adalah yang menjadikan pelakunya semakin bersopan santun kepada Allah SWT.

Orang yang memiliki keikhlasan kurang sempurna, ketika difutuh oleh Allah ia akan bermain-main dengan ilmunya. Alih-alih semakin cepat berjalan menuju Allah, ia justru terbuai oleh nafsu. Ia gemar menyombongkan diri dan menggunakan ilmunya untuk mengumpulkan harta benda, pangkat, kemasyuran, syahwat, dan sebagainya. Apabila seorang murid melakukan hal itu, maka ia telah menyimpang dari jalan Allah dan perbuatannya bisa mencegahnya untuk mendapatkan wushul ila-Allah (sampai kepada Allah) di akhir perjalanan.

Apabila kita menyibukkan diri dengan rahasia-rahasia alam dan melupakan Allah, maka kita telah melakukan perbuatan sia-sia, sementara orang-orang terlanjur mengatakan bahwa kita adalah wali Allah. Padahal kenyataannya bukanlah demikian.

Mari melihat hati kita masing-masing. Hati para wali telah kosong dari segala keburukan dan telah dihiasi dengan kebaikan. Apabila hati kita masih bergantung kepada asraar (rahasia), maka yang demikian adalah musibah. Hal ini karena Allah tidak lagi menjadi tujuan dan cita-citanya, dan yang menjadi tujuannya adalah mendapatkan kenikmatan dunia dan segala isinya.

Selain asraarul mulk (rahasian alam nyata), kita juga mengenal adanya asraarul malakuut (rahasia alam ghaib). Rahasia-rahasia alam malakuut terkadang juga tersingkap bagi seorang murid. Ketersingkapan satu ataupun satu juta rahasia dari alam malakuut itu sama saja. Hal yang menjadikannya berbeda adalah apakah terbukanya rahasia-rahasia semakin menjadikannya beradab kepada Allah atau tidak.

Apabila ia semakin sibuk mencari dunia dengan asraar itu, maka ia telah menyimpang dari jalan dan ia tidak akan sampai kepada Allah SWT. Inilah makna dari perkataan para sufi, ‘multafitun laa yashil’ (yang menoleh tidak akan sampai).

Hal lain yang membelokkan seorang murid dari jalan Allah adalah anwaar (cahaya-cahaya). Orang yang tekun beribadah, hatinya akan dipenuhi dengan anwaar. Terkadang ia mengalami peristiwa yang aneh. Ketika ia menyendiri dalam suatu ruangan yang gelap, tiba-tiba ruangannya menjadi terang, kemudian ia merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam hatinya. Itulah yang dinamakan anwarul mulk. Hal ini bisa terjadi pada orang Islam maupun orang kafir.

Seorang pendeta yang sering menyepi di gereja atau biksu yang lama menyepi di kuil juga dapat merasakan sensasi anwaar ini. Apabila munculnya anwaar menjadikan seorang murid memiliki sifat sombong dan berbangga diri, maka ia sudah menyimpang dari jalan Allah SWT. Orang yang menoleh tidak akan sampai.

Seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) harus selalu menjaga diri dari segala hal yang membuatnya menyimpang -baik berupa asraar maupun anwaar-. Ingatlah, semua itu bagian dari cara setan untuk mencoba menghalangi seseorang dari pintu Allah SWT. Setan tidak pernah lelah untuk menggoda anak adam. Segala cara dilakukannya agar manusia ketika beribadah bertujuan untuk mendapatkan kenikmatan beribadah, dan bukan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Seyogyanya, kita terus beribadah kepada Allah sampai ajal menjemput tanpa memperdulikan apakah ada kenikmatan atau tidak, tidak peduli apakah tersingkap rahasia atau tidak, tidak peduli apakah kita akan tenggelam dalam cahaya-cahaya atau tidak. Karena maksud dan tujuan ibadah satu-satunya hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: