Islam mendzalimi Perempuan Dalam Hal Pembagian Harta Warisan, Benarkah?

Islam mendzalimi Perempuan Dalam Hal Pembagian Harta Warisan, Benarkah?. Kita sering mendengar sebagian orang mengatakan bahwa Islam tidak berlaku adil kepada wanita dalam masalah pembagian harta warisan. Itu karena Islam menjadikan bagian warisan perempuan separoh dari bagian laki-laki. Sebagai muslim, kita sama sekali tidak meragukan apa-apa yang telah menjadi ketetapan dan peraturan Allah SWT.

Kita harus yakin dan beriman pada sifat Allah yang Maha Adil, yang tidak mungkin berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman,

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Allah tidak berbuat dzalim kepada seorang pun. (QS. Al-Kahfi: 49).

Allah berfirman,

وَلا يُظْلَمُونَ فَتِيلا

Semua manusia benar-benar tidak didzalimi. (QS. Al-Isra’: 71).

Allah juga berfirman,

وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada hamba-Nya. (QS. Al-Hajj: 10).

Allah juga berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ

Allah tidak mendzalimi mereka. (QS. Al-Ankabut: 40).

Allah juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Sesungguhnya Allah sama sekali tidak berbuat dzalim sedikitpun. (QS. An-Nisa’: 40)

Pada dasarnya perbedaan pembagian harta warisan itu terjadi karena 3 faktor:

  1. Tingkat kedekatan kekerabatan antara si mayat dengan ahli waris, baik laki-laki maupun perempuan.

Apabila hubungan kekerabatannya dekat maka otomatis bagian harta warisannya juga semakin besar. Apabila semakin jauh, maka bagian yang diterimanya juga semakin kecil, dengan tidak menghiraukan apakah ia laki-laki atau perempuan. Hal ini dapat kita lihat pada kondisi berikut. Seorang anak perempuan tunggal mendapatkan bagian 1/2 dari harta peninggalan ibunya, padahal ia seorang perempuan. Sementara ayahnya hanya mendapatkan bagian 1/4 saja, padahal ia seorang laki-laki. Hal itu dapat terjadi karena hubungan kedekatan anak kepada ibunya lebih besar dari pada hubungan kedekatan antara istri dengan suaminya,

  1. Faktor generasi penerus.

Generasi yang akan melanjutkan kehidupan si mayat dan yang akan memikul beban hidup biasanya memiliki bagian yang lebih banyak, tanpa memandang apakah ia laki-laki atau perempuan. Hal itu dapat kita lihat, seorang anak perempuan dari si mayat mendapatkan bagian lebih besar dari pada ibu si mayat, dan keduanya perempuan. Si anak mendapatkan bagian lebih besar dari pada ibu, karena si anaklah yang menjadi generasi penerus si mayat.

  1. Faktor beban ekonomi.

Faktor Inilah sebab utama yang menjadikan perbedaan bagian harta warisan antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi perbedaan ini tidak kemudian menjadikan adanya pihak-pihak yang didzolimi atau dikurangi bagiannya. Tetapi justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Dalam kondisi dimana ada beberapa ahli waris yang memiliki faktor kedekatan kekerabatan yang sama, dan sama-sama yang akan menjadi generasi yang melanjutkan kehidupan, seperti misalnya anak-anak si mayat -laki-laki dan perempuan-, maka faktor tanggungan ekonomilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan bagian harta warisan.

Seorang laki-laki memiliki tanggungan untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Sedangkan ahli waris perempuan menjadi tanggungan suaminya.

Seorang ahli waris perempuan, meskipun ia telah menjadi tanggungan suaminya akan tetapi ia masih tetap mendapatkan bagian walaupun lebih sedikit dari pada saudara laki-lakinya.

Sebenarnya ia telah diuntungkan, dimana bagian harta warisannya nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Islam sungguh memuliakan wanita. Namun hikmah yang tersembunyi ini hanya diketahui oleh beberapa orang.

Adapun beban-beban ekonomi yang ditanggung oleh seorang laki-laki diantaranya:

  • Seorang laki-laki ketika akan menikah ia diwajibkan untuk memberikan mahar kepada calon istrinya. Allah berfirman,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Dan berikanlah mahar bagi istri-istrimu. (QS. An-Nisa’: 4).

Mahar adalah harta yang harus diberikan oleh seorang-laki-laki kepada calon istrinya untuk memulai hubungan perkawinan antara keduanya. Dan seorang-laki-laki tidak dibolehkan untuk meminta mahar kepada wanita meskipun si wanita yang menginginkan menikah dengannya.

  • Seorang laki-laki akan menafkahi istrinya setelah melakukan akad nikah. Dan si laki-laki tidak dibolehkan memaksa istrinya untuk menafkahi dirinya sendiri meskipun ia memiliki harta yang banyak, apalagi meminta istrinya untuk menafkahi suami. Hal ini karena Islam sangat memuliakan wanita dan menjaga hartanya.
  • Seorang laki-laki juga menanggung beban ekonomi atas kerabat-kerabatnya.

Dari paparan diatas, kita dapat memahami mengapa Islam menetapkan bagian warisan perempuan lebih kecil dari pada bagian laki-laki.

Sesungguhnya agama Islam sangat memuliakan wanita. Harta bagian wanita tidak akan dikurangi sedikitpun kecuali hanya untuk membayar zakat yang wajib dikeluarkan. Sedangkan bagian laki-laki akan berkurang, karena akan digunakan untuk menafkahi istrinya, anak-anaknya, kedua orang tuanya apabila sudah tua, dan orang-orang yang wajib ia nafkahi -seperti kerabat dekat dan pembantu-.

Ketika faktor yang ketiga tidak ada, seperti pada kondisi pembagian harta warisan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan se-ibu, maka Allah SWT menyamakan bagian warisan mereka.

Allah berfirman,

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ

Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan anak, tetapi meninggalkan seorang saudara laki-laki se-ibu atau seorang saudara perempuan se-ibu, maka masing-masing dari keduanya saudara itu 1/6 harta. Tetapi jika saudara seibu itu lebih dari dua orang, maka mereka bersekutu dalam 1/3 bagian. (QS. An-Nisa’: 12).

Dalam kondisi ini ada persamaan bagian warisan antara laki-laki dan perempuan, karena yang menjadi dasar pembagian harta ini adalah karena lahir dari rahim yang sama. Mereka bukanlah asobah dari si mayat yang menjadikan si laki-laki mendapatkan peranan untuk melangsungkan kehidupan si mayat. Mereka juga tidak memiliki tanggung jawab ekonomi yang mereka pikul. Sehingga si laki-laki tidak mendapatkan bagian harta warisan lebih.

Ada 4 kondisi dalam hal pembagian harta warisan antara laki-laki dan perempuan yang telah diteliti oleh para ulama yaitu:

  • Kondisi dimana perempuan mendapatkan bagian warisan setengah dari bagian laki-laki.
  • Kondisi dimana perempuan mendapatkan bagian warisan yang sama dengan bagian laki-laki.
  • Kondisi dimana perempuan mendapatkan bagian lebih banyak dari pada bagian laki-laki.
  • Kondisi dimana perempuan mendapatkan warisan dan yang laki-laki tidak mendapakan bagian warisan sedikitpun.

Penjelasan dari keempat kondisi di atas adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi dimana ahli waris perempuan mendapatkan bagian harta warisan setengah dari bagian ahli waris laki-laki.
  • Mayat meninggalkan anak perempuan bersama dengan anak laki-laki.
  • Mayat meninggalkan ibu, bapak, dan tidak ada anak, istri, dan suami.
  • Mayat meninggalkan saudara perempuan kandung, dan saudara laki-laki kandung.
  • Mayat meninggalkan saudara perempuan se-bapak, dan saudara laki-laki se-bapak.
  1. Kondisi dimana ahli waris perempuan mendapatkan bagian yang sama dengan bagian ahli waris laki-laki.
  • Mayat meninggalkan saudara laki-laki dan saudara perempuan se-ibu.
  • Mayat hanya meninggalkan bapak dan ibu.
  • Mayat meninggalkan seorang anak perempuan dan saudara laki-laki, dengan syarat tidak ada orang yang menghalanginya.
  • Mayat meninggalkan bapak, nenek, dan cucu laki-laki.
  • Mayat meninggalkan suami, ibu, dua saudara perempuan se-ibu, dan seorang saudara laki-laki kandung. Hal ini berdasarkan atas ketetapan sayyida Umar bin Khottob, bahwa dua orang saudara perempuan se-ibu dan seorang saudara laki-laki itu bersekutu untuk mendapatkan bagian 1/3 harta warisan.
  1. Kondisi dimana seorang ahli waris perempuan mendapatkan bagian lebih banyak dari pada bagian ahli waris laki-laki.
  • Mayat meninggalkan suami dan seorang anak perempuan.
  • Mayat meninggalkan suami dan dua anak perempuan.
  • Mayat meninggalkan seorang anak perempuan dan saudara laki-laki.
  1. Kondisi dimana hanya ahli waris perempuan yang mendapatkan harta warisan.
  • Apabila si mayat meninggalkan suami, bapak, ibu, seorang anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Harta yang ditinggalkan misalkan 195 dinar. Maka cucu perempuan akan mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan yaitu sebanyak 26 dinar. Namun seandainya si mayat meninggalkan cucu laki-laki dan tidak meninggalkan cucu perempuan, maka ia tidak mendapatkan bagian sama sekali. Sebab ia akan menjadi ashobah, yang akan mengambil sisa bagian. Tetapi tidak ada sisa di sini.
  • Apabila mayat meninggalkan suami, saudara perempuan kandung, dan saudara perempuan se-bapak. Misalnya harta yang ditinggalkan sebanyak 84 dinar, maka saudara perempuan se-bapak akan mendapatkan bagian 1/6 dari harta yang ditinggalkan yaitu sebanyak 12 dinar. Namun apabila si mayat meninggalkan saudara laki-laki se-bapak dan tidak meninggalkan saudara perempuan se-bapak, maka ia tidak akan mendapatkan harta warisan, sebab separoh harta untuk suami dan separohnya lagi untuk saudara perempuan kandung, sedangkan sisanya untuk saudara laki-laki se-bapak. Namun ia tidak mendapatkannya karena sisanya tidak ada.

Inilah beberapa kondisi yang telah diteliti oleh para ulama ahli faroidh (ilmu yang membahas tentang pembagian harta warisan). Semoga penjelasan singkat ini dapat menghilangkan kerancuan-kerancuan berfikir kita sebelumnya. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar selalu menolong dan membimbing kita. Amiin.

Syaikh Ali Jum’ah, Al-Bayaan Lima Yusyghilul Adzhaan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: