Apa Hukum Sistem Pemerintahan Demokrasi?

Apa Hukum Sistem Pemerintahan Demokrasi?. Sistem pemerintahan di dalam sebuah negara terus bergerak maju dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Ketika ilmu pengetahuan maju dan berkembang, banyak kebijakan dan peraturan-peraturan baru yang bermunculan.

Pada masa Rasulullah SAW belum ada istilah dawawin (mahkamah/peradilan). Dan ketika masa khalifah Umar istilah ini baru muncul. Lalu pada masa kholifah-kholifah setelahnya, mereka mencetak mata uang, menciptakan dewan-dewan keamanan, polisi, tentara, dan perangat-perangkat negara lainnya.

Agama Islam memiliki cakupan dan ruang lingkup yang lebar. Islam dapat diterapkan di setiap waktu, tempat, dan kondisi apapun. Kelenturan ajaran Islam tetap dapat diterapkan meskipun sebuah negara memiliki banyak aturan dan undang-undang yang bermacam-macam.

Agama Islam juga mengajarkan seorang muslim untuk berpolitik. Kegiatan politik yang telah dipraktekkan umat Islam diantaranya:

  1. Memilih seorang pemimpin dan rela dengan kepemimpinannya. Di dalam fiqih hal ini sering diungkapkan dengan istilah albai’ah.
  1. Kerja sama secara umum di dalam persoalan-persoalan yang melibatkan masyarakat umum, yang disebut dengan istilah musyawarah yang sangat dianjurkan oleh agama Islam.
  1. Mengangkat dewan perwakilan rakyat
  1. Adanya seorang pemimpin yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Setiap negara memiliki aturan dan undang-undang pemerintahan yang berbeda. Masing-masing memiliki tata cara dan pelaksanaan hukum yang berbeda. Namun aturan dan undang-undang itu harus selaras dengan ajaran agama Islam yang mulia.

Berbicara tentang demokrasi, ia adalah sistem pemerintahan yang telah diterapkan oleh beberapa negara yang memiliki tujuan untuk menghilangkan sistem pemerintahan yang otoriter yang menguasai kelompok yang lemah.

Pada dasarnya inti dari demokrasi sejalan dengan ajaran agama Islam. Keduanya sama-sama melaksanakan pemilihan seorang hakim atau wakil rakyat. Dalinya adalah Islam mengharamkan adanya imam shalat yang dibenci oleh makmumnya. Imam shalat haruslah seorang yang disukai oleh banyak orang. Oleh karena itu dalam memilih seorang pemimpin, orang Islam akan memilih sosok yang paling banyak disukai oleh rakyat.

Sistem pemerintahan demokrasi mempraktekkan beberapa hal diantaranya, pemilu, adanya dewan penasehat, memenangkan keputusan yang didukung oleh suara terbanyak, partisipasi dari beberapa partai politik, kebebasan pers, menghormati hak hukum, adanya hak kelompok minoritas/oposisi untuk menolak keputusan pemerintah, dan lain sebagainya.

Hal-hal inilah yang diperjuangkan oleh orang barat melalui demokrasi. Padahal ini semua sudah dilakukan oleh orang-orang Islam sejak zaman dahulu karena semua itu merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Oleh karena itu sebenarnya kita telah mendahului barat dalam mempraktekkan demokrasi. Hanya saja istilah demokrasi muncul dari barat dan diklaim sebagai ide dan pemikiran mereka.

Agama Islam tidak pernah melarang seorang muslim untuk mencontoh dan mengambil teori pemikiran atau segala ide yang bagus yang muncul dari kaum non muslim. Karena ini juga dilakukan oleh Rasulallah SAW ketika beliau menerapkan strategi perang khondak yang diambil dari strategi perang bangsa Persia.

Nabi Muhammad SAW juga memerintah kepada tawanan perang di dalam perang badar dan perang uhud agar mereka mengajarkan menulis dan membaca kepada orang Islam. Nabi juga mencontoh stempel pada surat-surat yang ditulis oleh para raja. Umar bin Khottob juga mencontoh aturan pajak, perkantoran, dan mahkamah/pengadilan dari bangsa lain.

Para ulama mengatakan, “hikmah itu ibarat barang yang hilang dari seorang muslim. Dimana saja ia menemukannya hendaknya ia mengambilnya kembali”.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ajakan untuk menerapkan sistem demokrasi bukan berarti ajakan untuk merubah hukum Allah yang ada di bumi. Sebab tidak ada pertentangan antara hukum demokrasi dengan hukum Allah.

Demokrasi yang diterapkan di negara-negara Islam adalah bentuk sistem pemerintahan yang menggambarkan prinsip-prinsip politik Islam, yang ditunjukkan dalam hal memilih seorang wakil rakyat, prinsip musyawarah mufakat, nasehat dan dewan pertimbangan, amar ma’ruh nahi munkar (perintah untuk kebaikan dan mencegah kemungkaran), dan melawan kesewenang-wenangan.

Dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa ketika orang-orang Islam menuntut demokrasi, sesungguhnya mereka sedang memperjuangkan sarana yang dapat membantu mereka untuk mewujudkan tujuan hidup yang mulia. Karena dengan demokrasi, orang-orang Islam dapat melaksanakan kewajiban mereka untuk berdakwah kepada umat manusia.

Akan tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa prinsip musyawarah di dalam agama Islam sama persis dengan sistem demokrasi barat. Seorang muslim yang baik tidak akan mengambil semua prinsip demokrasi secara mentah. Ia harus bisa mengambil mana yang baik dan yang benar, dan meninggalkan yang salah dan yang keliru.

Umat Islam hanya diperbolehkan mengambil yang baik-baik dari sistem pemerintahan phak lain dengan tetap memperhatikan aturan dan hukum yang telah Allah tetapkan kepada kita.

Orang-orang yang berada di barisan depan dalam menyerukan demokrasi juga sepakat dengan umat Islam bahwa pemikiran yang dihasilkan oleh akal manusia tidak selalu benar. Karena akal manusia akan selalu berkembang dan berubah.

Begitu pula demokrasi, ia akan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Karena demokrasi akan membutuhkan perbaikan dan penyesuaian apabila kita ingin menjadikannya sebagai demokrasi Islam.

Demokrasi yang disetujui oleh Islam adalah demokrasi yang tidak menghilangkan kebudayaan masyarakat yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sistem demokrasi harus melindungi hak-hak masyarakat, aqidah, dan keyakinan mereka. Itulah demokrasi yang membantu agama Islam dalam mewujudkan tujuan dan cita-citanya.

Akan tetapi apabila demokrasi ini dimaksudkan untuk menguasai sebuah mayarakat dan merubah budayanya, maka hal itu tidak berbeda dengan penjajahan yang amat dibenci oleh Islam.

Mari kita memohon kepada Allah SWT agar Dia menyelamatkan negara dan bangsa kita dari penjajah. Amiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan lima yusyghilul adzhan

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: