Mentertawakan Saudara Kita, Bagaimana Islam Menjelaskan?

Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dijelaskan bahwa tertawa yang benar adalah tertawa yang tidak didorong oleh sikap mencela terhadap pihak lain, mencemooh atau melukai perasaannya. Juga tidak dibarengi dengan perkataan dusta dan kebohongan karena sekedar ingin mengundang tawa.

Rasulullah SAW bersabda, “celakalah orang yang berkata-kata dalam sekelompok orang, kemudian ia berbohong karena hendak mengundang tawa mereka, maka celakalah dia, celakalah dia”. (HR. Ahmad).

Rasulullah juga bersabda, “sesungguhnya ada seseorag yang berani mengucapkan kata-kata yang dianggapnya sepele, karena sekedar ingin mengundang tawa teman-temannya. Padahal karena hal itu ia akan terjatuh ke tempat yang jauh yang melebihi jauhnya langit”. (HR Ahmad).

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah menasehati para sahabatnya agar tidak tertawa, yang dapat mengejutkan saudaranya sesama muslim atau menakut-nakutinya.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata bahwa para sahabat pernah bercerita kepadaku, pada saat mereka sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah SAW seseorang diantara mereka tertidur. Beberapa sahabat lalu mengambil anak panahnya hingga membuatnya terbangun lalu kebingungan -karena melihat anak panahnya raib-.

Mereka pun menertawakannya. Rasulullah pun bertanya, “apa yang membuat kalian tertawa?”, mereka menjawab, “tidak ada apa-apa wahai Rasulullah, kami hanya mengambil anak panahnya saat ia tertidur, kemudian ia terbangun dan merasa kebingungan karena mendapati anak panahnya sudah tidak ada bersamanya”.

Maka Rasulullah SAW bersabada, “tidak dibenarkan seorang muslim menertawakan (karena menggoda) muslim lainnya”. Dalam kesempatan yang lain, Rasuluillah SAW juga mengajarkan kepada para sahabatnya agar tidak menertawakan saudaranya sesama muslim dengan tujuan ingin menyakiti, mengejek, atau mencela postur tubuhnya yang kurang sempurna.

Diceritakan dalam sebuah hadits, suatu ketika Abdullah bin Mas’ud memanjat pohon arok untuk mengambil siwak, dan Ia memiliki betis yang kecil. Tiba-tiba angin kencang berhembus dan menerpanya, hingga orang-orang menertawakannya.

Rasulullah berkata, “karena apa kalian tertawa?”, mereka menjawab, “karena betisnya yang kecil wahai nabi”, Rasulullah bersabda, “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kedua betisnya masih lebih berat dari pada gunung uhud”. (HR Ahmad).

Majdi Muhammad Asy-Syahawi, mawaqif dhohik fiha ar-rasul wa ashabuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: