Menghilangkan 70.000 Hijab Hati Dengan Dzikir Asma’ul Husna

Diantara cara menghilangkan 70.000 hijab hati adalah dengan berdzikir menggunakan asma’ul husna. Para guru sering mengajari murid dengan wirid Asma’ul Husna yang akan memudahkannya berjalan menuju Allah.

Diantara Asma’ul Husna itu adalah lafdzul jalaalah (Allah), kalimat tauhid (laa ilaa ha illallah), dan dzomir (kata ganti) yang meruju’ (kembali) kepada Allah SWT (huwa). Para mursyid menjadikan dzikir Asma’ul Husna sebagai cara yang paling mudah untuk berjalan menuju Allah sekaligus menghilangkan hijab-hijab yang menutupi kalbu.

Jumlah amalan dzikir yang dianjurkan oleh seorang guru dengan guru yang lain berbeda-beda. Ada seorang syekh yang memerintahkan salah satu muridnya untuk berdzikir, ‘Allah’ sebanyak 70.000 kali, akan tetapi murid yang lain hanya diperintah sebanyak 50.000 atau 30.000 kali. Perbedaan ini terjadi karena melihat kondisi murid.

Seorang guru mengetahui efek-efek yang akan terjadi setelah para murid mengamalkan dzikir Asma’ul Husna ini. Ia bisa mengetahui seberapa besar pengaruh dzikir dalam membantunya berjalan menuju Allah dan merobek hijab hatinya.

Seorang murid harus memulai dengan dzikir ‘laa ila ha illa Allah’. Ini adalah kalimat tauhid yang di dalamnya mengandung makna peniadaan Dzat, pengosongan hati, dan penghiasan hati. Ia harus membacanya sebanyak 100.000 kali dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari hijab-hijab yang menghalanginya.

Caranya ucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan, dengan menghadirkan Allah, dan disertai dengan niat yang sempurna.

Dzikir ini harus dibaca setiap hari dengan bilangan yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi. Ada yang kuat membaca hingga 1000 kali atau 500 kali. Murid yang mampu berdzikir sebanyak 5000 kali setiap hari berarti ia akan selesai dalam waktu 20 hari, sedangkan yang berdzikir sebanyak 1000 kali akan selesai dalam 100 hari.

Hendaklah seorang hamba berdzikir dengan niat ta’abbud (menyembah) kepada Allah SWT. Ta’abbud adalah membaca setiap kalimat dzikir dengan penuh kekhusyuan. Orang yang berdzikir ribuan kali tetapi dilakukan dalam waktu beberapa menit saja belum dikatakan ta’abbud.

Ia belum dikatakan melakukan ibadah yang sempurna, Ia hanya menggugurkan kewajiban. Di dalam dirinya seolah-olah ia berkata bahwa ia harus mampu mengucap ‘laa ilaa ha illa Allah’ sekian kali. Tidak seperti itu, ibadah yang benar dilakukan dengan hati yang hudzur (hadir) bersama dengan Allah SWT. Jadi, tujuannya bukan jumlah bilangan, tetapi melayani hati agar tenang bersama dengan Allah SWT.

Kita harus berjalan menuju Allah SWT dengan hati yang mantap. Adapun caranya dengan senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Untuk memudahkan berdzikir mengingat Allah, para ulama membuat suatu alat yang dinamakan tasbih. Tasbih dapat kita gunakan untuk berdzikir pada waktu-waktu yang sudah ditentukan. Jumlahnya ada 99 dan disempurnakan lagi menjadi 100.

Selain mempermudah untuk menghitung jumlah dzikir, tasbih juga berfungsi untuk membantu memfokuskan hati mengingat Allah hanya dengan melihat dan memegangnya.

Uraian di atas adalah sebagian pembahasan tentang at-Thoriq ila-Allah. Tujuan at-Thoriq ila-Allah hanya Allah. Seorang murid tidak boleh memiliki tujuan lain selain Allah SWT. Segala sesuatu selain Allah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak tidak boleh membuat kita lupa kepada Allah SWT.

Ketika sedang berjalan menuju Allah, terkadang Allah membuka beberapa rahasia alam mulk atau rahasia alam malakut bagi si murid. Ia harus ingat bahwa hal itu bukanlah tujuan, karena tujuan satu-satunya hanyalah Allah SWT.

Ada 2 hal yang ditekankan oleh para ulama dalam prinsip dasar at-Thoriq ila-Allah. Prinsip pertama ‘yang menoleh tidak akan sampai’ dan prinsip yang kedua adalah ‘Allah adalah tujuan dari segalanya’. Meskipun cara dan metode yang dipakai berbeda-berbeda, selama masih dalam koridor syar’i (hukum Islam), semua thariqah diperbolehkan karena ia dapat mengantarkan sang murid kepada Allah SWT.

Oleh karena itu perbedaan thariqah tidak boleh mengundang perselisihan. Perbedaan hanya terdapat dalam jalannya, namun tujuannya tetap sama yaitu Allah SWT. Adapun mereka yang saling menyalahkan, karena belum memahaminya secara utuh.

Syekh Ali Jum’ah, A-Thariq ilaa Allah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: