Mengenali Siapa Mereka Guru Thariqah

Para ulama mensyaratkan adanya seorang syekh (guru spiritual) dalam perjalanan seseorang menuju Allah SWT. Syekh juga sering disebut dengan istilah mursyid (pembimbing). Dialah orang yang mengetahui segala hal yang berhubungan dengan thariiqah (jalan menuju Allah). Mursyid berfungsi sebagai pemandu para murid di dalam menjalankan praktek-praktek ibadah kepada Allah SWT.

Semua praktek dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam thariiqah mengikuti jejak dan ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh para ulama salafus shalih, dan tidak ada satu praktek ibadah pun yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits -sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian orang-. Ketahuilah, bahwa semua ajaran thariiqah bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga banyak sekali dalil-dalil di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menguatkan praktek-praktek yang dilakukan oleh para mursyid.

Para ahli tasawuf menggolongkan mursyid ke dalam beberapa kategori. Ada yang disebut dengan istilah As-Syaikh Al-Mursyid, ia adalah seorang guru thariiqah. Ia sangat memahami bentuk dan jenis-jenis godaan yang dapat membelokkan para murid dari jalan Allah, dan ia juga mengetahui bagaimana cara menghindarkan para murid dari godaan-godaan ini. Disamping itu, ia juga sangat ahli dalam hal menasehati dan mengajarkan adab yang baik kepada para murid.

Al-Adabu Ma’allah (beradab kepada Allah) adalah prinsip yang penting dan utama. Hal ini menjadi tujuan paling pokok di dalam Thariqah, sehingga mursyid dituntut untuk bisa mengajarkan kepada para murid bagaimana melaksanakan adab yang baik kepada Allah. Hal pertama yang diajarkan agar dapat melaksanakan praktek adab kepada Allah adalah ‘dzikir’. Kemudian, hal yang kedua setelah dzikir adalah ‘tidak memandang kepada selain Allah’, karena Allah adalah tujuan segalanya.

Kategori mursyid selanjutnya adalah Mursyid taam (mursyid sempurna). Ia adalah sebenar-benar pewaris nabi. Seorang mursyid taam memiliki kebeningan hati dan jiwa yang bersih sehingga ia mampu menyaksikan kebusukan-kebusukan hati para murid. Ketika menyaksikan hitamnya hati para murid, Mursyid taam memaklumi hal ini, sehingga kita tidak perlu khawatir bahwa ia akan berprasangka buruk kepada mereka.

Penyakit-penyakit hati para murid, dengan izin Allah dapat diketahui oleh mursyid taam, dan setelah mengetahuinya ia akan segera mendidik, membimbing, mengarahkan kepada kebaikan, menyempurnakan kekurangan, dan menarik mereka agar kembali ke jalan yang lurus.

Namun, tidak setiap perjalanan menuju Allah harus memakai pemandu mursyid taam. Ia seorang mursyid itu telah mencukupi, akan tetapi jika Allah menunjukkan kepada kita seorang mursyid yang sempurna, tentu akan lebih baik.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: