Perempuan Menjadi Imam Shalat Jum’at Sekaligus Khatibnya, Bagaimana Islam Melihat Hal Ini?

Shalat adalah ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT lengkap dengan tata cara, aturan, dan bentuknya. Setiap orang dilarang untuk berijtihad untuk menciptakan aturan shalat sendiri. Imam shalat yang seorang laki-laki adalah syarat sahnya shalat berjama’ah.

Hal ini bukan berarti meninggikan posisi laki-laki dan merendahkan perempuan, akan tetapi ini adalah aturan yang Allah tetapkan. Dan setiap peraturan yang dibuat Allah itu pasti bagus.

Umat Islam telah bersepakat akan baiknya perbuatan memuliakan kaum wanita. Muslim yang cerdas bisa memahami bahwa larangan perempuan untuk menjadi imam shalat berjama’ah tidak bertujuan untuk menghina kaum perempuan.

Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Allah memerintahkan kaum perempuan untuk berada pada posisi shaf (barisan) terbelakang karena di dalam shalat ada gerakan sujud yang tidak baik apabila dilihat oleh laki-laki.

Orang Arab mengatakan, “Allah memundurkanmu untuk memajukanmu”, maksudnya bahwa dijadikannya kaum wanita di posisi belakang di dalam shalat berjama’ah bukanlah bentuk perendahan atas mereka, akan tetapi hal ini bertujuan untuk meninggikan derajat wanita, menjaga adab yang mulia, menghindari malu, dan saling bekerja sama antara laki-laki dan perempuan -di dalam menjaga pandangan-.

Perempuan menjadi imam shalat

Mengenai permasalahan menjadi imam shalat bagi perempuan dapat dilihat dari dua kacamata. Pertama, kenyataan yang terjadi dan praktek yang telah dilakukan bertahun-tahun, dan yang kedua, dilihat dari kacamata turots (khazanah) ilmu fikih -yang menjadi sandaran hukum umat Islam-.

Apabila kita melihat dari kacamata ‘praktek yang telah dilakukan berabad-abad’, maka kita telah mengetahui dengan yakin bahwa seluruh kaum muslimin -yang ada di timur maupun di barat dan yang lalu maupun yang sekarang- telah bersepakat bahwa tidak pernah ada seorang perempuan pun yang mengumandangkan adzan atau menjadi imam shalat jum’at.

Sejak 14 abad yang lalu, sejarah belum pernah mencatat adanya seorang perempuan yang berkhutbah di hari jum’at dan mengimami makmum laki-laki. Akan tetapi, apabila dilihat dari kacamata ‘fikih Islam’, kita akan mendapati 2 hadits. Hadits yang pertama, hadits Waroqoh bintu Abdullah bin Al-Harist, ‘bahwasanya nabi Muhamad SAW menyuruh wanita untuk mengumandangkan adzan untuk kaum wanita dan menjadi imam untuk kaum wanita di rumahnya’. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Daruquthni).

Hadits yang kedua diriwayatkan oleh Sahabat Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda di dalam khutbahnya, ‘janganlah seorang wanita menjadi imam untuk laki-laki, orang a’robi (orang awam) menjadi imam untuk orang muhajirin, orang fajir (yang berbuat jahat) menjadi imam untuk orang mukmin, kecuali apabila ia diancam oleh pemerintah dengan ancaman pedang’. (HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan At- Tabrani).

Ada beberapa ulama ahli hadits yang melemahkan keshahihan hadits yang pertama, seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani. Beliau mengatakan bahwa di dalam sanad hadist ini ada seseorang yang bernama Abdurrohman bin Kholad, ia adalah orang yang tidak diketahui (dikutip dari kitab at-talkhis al-khabir).

Adapun hadits yang kedua banyak para ahli hadits yang menganggapnya sebagai hadits dza’if (lemah), bahkan hadits yang kedua ini lebih lemah dari pada hadits yang pertama. Ibnu Hajar mengatakan bahwa di dalam sanad hadits ini ada seseorang yang bernama Abdulloh bin Muhammad Al-’Adawi.

Beliau juga mengatakan bahwa al-Waqi’ menganggapnya sebagai hadits palsu. Sedangkan Ali bin Zaid menganggapnya sebagai hadts dza’if (dikutip dari kitab at-talkhis al-khobiir).

Ulama-ulama dari 4 madzhab bersepakat untuk menolak dan melarang seorang perempuan menjadi imam di dalam shalat fardlu yang makmumnya adalah kaum laki-laki. Akan tetapi Abu Tsaur, Muzani, dan Ibnu Jarir berpendapat bahwa laki-laki yang menjadi makmum dari imam perempuan itu sah shalatnya. (dikutip dari kitab al-mausu’ah al-fiqhiyyah).

Adapun di dalam shalat sunah dan shalat tarawih, mayoritas ulama juga melarang perempuan untuk menjadi imam shalat. Akan tetapi ada beberapa ulama yang bermadzhab Hambali berpendapat, ‘bolehnya seorang wanita menjadi imam bagi kaum laki-laki di dalam shalat sunah dan shalat tarawih’.

Di dalam kitab al-furu’ Ibnu Muflih megatakan bahwa wanita boleh mejadi imam bagi laki-laki di dalam shalat sunat apabila ia paling pandai dalam membaca al-Qur’an.

Kami telah melihat perbedaan pendapat ulama-ulama diatas, dan kami mengeluarkan fatwa yang sama dengan apa yang telah disepakati oleh para ulama zaman dahulu dan sekarang -secara perkataan dan perbuatan- dengan melihat kuatnya dalil-dalil yang dipakai dan penelitian yang mendalam.

Adapun maksud kami mengutarakan beberapa pendapat ulama yang bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama hanya karena sebagai amanat keilmuan dan tidak menganjurkan untuk menjadikannya sebagai dasar hukum untuk dipraktekkan. Karena ajakan untuk melaksanakan pendapat ulama yang sedikit dapat menyakiti hati umat Islam yang telah lama berpegang pada pendapat mayoritas ulama.

Adapun hikmah dilarangnya seorang perempuan untuk menjadi imam shalat adalah untuk melaksanakan perintah Allah dalam hal menjaga pandangan bagi kaum laki-laki dan perempuan dan perintah untuk menutup aurot.

Aurot wanita adalah semua badannya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada perempuan agar ia berada di shaf paling belakang. Sebab di dalam shalat ada gerakan sujud yang dapat menjadikan tubuh perempuan terlihat lekukannya dan bahkan bisa terbuka.

Adapun fenomena seorang perempuan yang menjadi imam shalat jum’at dan menjadi khatib jum’at, sesungguhnya perbuatan ini tidak dibenarkan oleh agama Islam. Tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan bahwa seorang perempuan boleh menjadi khatib jum’at.

Perbuatan menyimpang seperti ini memang biasa dilakukan oleh sekelompok orang yang berani menafsirkan Al-Qur’an dengan sekehendak hawa nafsu mereka sendiri. Pendapat dan pemikiran-pemikiran mereka seringkali berlawanan dengan sunnah dan ijma’ (kesepakatan mayoritas ulama).

Bahkan mereka memiliki pendapat yang membolehkan lesbi, homo, zina, minum khamr, aborsi, dan membolehkan perubahan bagian warisan. Namun hanya segelintir orang yang memiliki pikiran sesat seperti ini.

Kelompok seperti ini tidak akan bertahan lama di muka bumi.

Allah berfirman,

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ

Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar-Ra’du: 17)

Syaikh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: