70.000 Hijab Hati, Apa Itu?

Ada 70.000 hijab (penghalang) hati manusia untuk melihat Allah SWT. Apabila manusia mampu melepaskan diri dari hijab-hijab itu, niscaya ia akan memperoleh anwar (cahaya-cahaya). Baginya akan tersingkap sebagian rahasia-rahasia alam mulk dan malakut.

Kita membutuhkan 70.000 langkah untuk berjalan menuju Allah. Langkah yang dimaksud adalah hijab itu sendiri. Setelah berhasil melewati satu hijab, kita akan berhadapan dengan hijab selanjutnya, dan begitu seterusnya.

Fenomena yang kerap terjadi dalam dunia thariqah adalah adanya seseorang yang mampu melewati ke 70.000 hijab itu dalam waktu sehari, Akan tetapi ada pula yang melewati 10.000 hijab dalam waktu 40 tahun. Hal ini tidak mengherankan apabila kita sadar akan kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Allah berhak memberikan futuh (keterbukaan hati) bagi siapa saja yang dikehendakinya dan kapan saja.

Seorang guru terkadang lebih mendahulukan murid baru dari pada yang telah lama berjalan. Hal itu terjadi karena murid baru mampu melewati hijab-hijab yang belum mampu dilalui oleh murid lama. Semua ini bergantung pada fadhol (karunia) dari Allah SWT, Dia berhak menolak dan memberi kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Para mursyid sering mengatakan, “hendaknya seorang murid tidak melihat kembali hijab-hijab yang telah dilaluinya. Ia juga tidak perlu menghitung jumlah hijab yang telah dilalui atau yang tersisa. Dengan tidak memperhatikan hijab yang telah dilaluinya akan membantu seorang murid untuk mendapatkan keikhlasan dalam berjalan menuju Allah SWT.

Disamping itu, hal itu akan membantunya dalam melewati hijab-hijab selanjutnya yang tentu lebih banyak. Seseorang yang sibuk melihat hijab akan lupa untuk mengingat Allah SWT. Orang yang melihat hijab sedang menoleh dari jalan Allah, dan orang yang menoleh tidak akan sampai”.

Tidak ada seorang ulama pun yang menuliskan ke 70.000 hijab itu secara detail, mereka hanya menjelaskannya secara global. Mereka menunjukkan kepada kita makna-makna halus yang sulit diungkapkan dengan bahasa lisan maupun tulisan. Ketika menjelaskannya, mereka hanya mengibaratkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Mengibaratkannya dengan jalan, mengumpamakannya dengan tingkatan-tingkatan, dan menggambarkan hijab-hijab dengan gambaran yang mudah kita tangkap.

Perumpamaan-perumpamaan itu dianggap sebagai cara yang paling mudah untuk menyampaikan makna-makna. Karena dengan perumpamaan, makna-makna menjadi lebih mudah ditangkap akal.

Hijab adalah perumpamaan dari kotoran dan penyakit-penyakit hati. Hati yang terjangkit penyakit adalah hati yang bersandar pada dunia, yang bersedih atas sesuatu yang hilang, senang terhadap sesuatu yang ada, melupakan kematian, mengira bahwa kehidupan ini kekal, memikirkan kepentingan dirinya dan tidak memperdulikan orang lain, tidak memberikan sesuatu yang dia miliki, dan bertingkah laku buruk.

Ini merupakan hati yang gelap karena tertutup dengan 70.000 hijab. Lalu bagaimana cara agar kita bisa melepaskan diri dari hijab-hijab tersebut?, bagaimana cara menghilangkan keraguan agar kita percaya dan yakin kepada Allah SWT?, Dan bagaimana cara agar kita mampu menyadari dengan sepenuhnya bahwa manusia tidak memiliki kekuatan sama sekali?. La haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah semata).

Para ulama telah mengajarkan bagaimana cara menghilangkan hijab-hijab yang menutupi hati kita. Salah satunya adalah dengan berfikir mengenai penciptaan langit dan bumi. Ketika manusia berfikir sambil merenungi penciptaan langit dan bumi, ia akan semakin yakin akan keagungan dan wibawa Allah SWT.

Di dalam segala sesuatu terdapat tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah SWT. Semakin memikirkan keagungan Allah, kita akan semakin menganggap kecil diri ini. Kita akan semakin merasakan bahwa penciptaan langit dan bumi lebih dahsyat dari penciptaan manusia.

Ketika menyelam dalam perenungan ini, kita akan menjadi tahu bahwa alam dan segala isinya adalah baru yang sebelumnya tidak ada. Alam raya ini akan hancur dan pada akhirnya semua manusia akan mati.

Ketika memikirkan kematian, kita akan mengetahui hakikat dunia. Sesungguhnya dunia itu amatlah remeh dan sedikit. Dunia adalah ladang akhirat. Dunia diciptakan untuk menguji keimanan manusia. Semakin dalam kita berfikir, kita akan semakin menganggap bahwa dunia ini tidak bernilai.

Berfikir dan merenungi ciptaan Allah merupakan salah satu dari perintah-perintah-Nya.

Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali-Imraan: 190).

Syaikh Ali Jum’ah. At-Thariq ila Allah

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: