Allah Ada Di Mana-Mana (Hikmah ke-enambelas)

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ الَّذِى أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah itu terhijab / tertutup oleh sesuatu, padahal Dialah yang memunculkan segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ الَّذِى ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Dialah yang tampak dengan segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَالَّذِى ظَهَرَ فِى كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Dialah yang tampak di dalam segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُوْدِ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Allah satu-satunya yang ada sebelum adanya segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ الَّذِى ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Dialah yang ada untuk segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Dialah yang paling tampak diantara segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ الْوَاحِدُ الَّذِيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu. Padahal Dia itu sendiri, dan tidak ada sesuatu yang bersama dengan-Nya.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّرأَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal Dialah yang paling dekat denganmu dari pada segala sesuatu.

  • كَيْفَ يُتَصَوَّر أَنْ يَحْجبَهُ شَيْءٌ، وَلَوْلاَهُ مَا كَانَ وُجودُ كُلِّ شَيْءٍ

Bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu, padahal jika tidak ada Dia, maka segala sesuatu tidak akan ada.

  • يَا عَجَبًا كَيْف يَظْهَرُ الْوُجُوْد فِى الْعَدَمِ، أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِث مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ اْلقِدَم

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin sesuatu yang wujud (Allah) itu bisa tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (alam). Atau bagaimana mungkin sesuatu yang bersifat hadits (baru, maksudnya: alam) itu disandingkan dengan Dzat yang memiliki sifat qidam (terdahulu, maksudnya: Allah).

Di dalam hikmah ini sesungguhnya pengarang ingin menuturkan dalil-dail yang menunjukkan bahwa Allah tidak terhijab dengan alam. Syekh Ibnu Athaillah mengatakan, “bagaimana mungkin Allah terhijab dengan sesuatu selain Allah, padahal Dialah yang memunculkan segala sesuatu”.

Maknanya; Allah telah menciptakan alam raya dari tidak ada menjadi ada. Dan apabila sesuatu yang diciptakan itu keberadaannya bergantung kepada Dzat yang menciptakan, maka sesuatu yang diciptakan tidak mungkin bisa menghijab Dzat yang menciptakan.

Syekh mengatakan, “Allah tampak dengan segala sesuatu”, maksudnya; bahwa segala sesuatu / alam raya menjadi dalil yang menunjukkan keberadaan Allah. Di dalam segala sesuatu ada tanda yang menunjukkan bahwa Allah itu satu.

Allah berfirman,

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. (QS. Fusshilat: 53)

Adapun perkataan Syekh, “Allah tampak dalam segala sesuatu”, bermakna; bahwa segala sesuatu adalah perwujudan dari nama-nama-Nya. Di dalam orang-orang yang mulia, Allah menampakkan diri dengan nama-Nya sebagai Al-Mu’iz (Maha Memuliakan), di dalam orang-orang yang hina, Allah menampakkan diri dengan namanya yang Al-Mudzillu (Maha Menghinakan).

Adapun makna dari perkataannya, “Allah tampak bagi segala sesuatu”, adalah; bahwa Allah itu tampak bagi segala sesuatu, dan segala sesuatu mengetahui keberadaan Allah dan mereka semua bertasbih kepada-Nya.

Allah berfirman,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (QS. Al-Isra’: 44)

Adapun perkataannya, “Allah ada sebelum adanya segala sesuatu”, bermakna; bahwa wujud Allah bersifat azali (tidah diawali dengan ketiadaan), dan wujud Allah bersifat kekal selamanya, dan Allah ada dengan sendirinya.

Sesuatu yang keberadaannya bergantung kepada sesuatu yang lain, tidak mungkin menghijab Dzat yang keberadaannya ada dengan sendirinya. Allahlah yang paling tampak diantara segala sesuatu.

Namun, karena penampakan-Nya terlalu jelas dan dekat, sehingga Dia tidak dapat ditangkap oleh orang-orang yang lemah pandangan mata hatinya. Sebagaimana kelelawar yang hanya bisa melihat di waktu malam, sebab matanya lemah terkena sinar matahari di siang hari.

Adapun perkataan Syekh, “Allah sendiri, dan tidak ada sesuatu yang bersama dengan-Nya”, bermakna; segala sesuatu selain Allah pada hakekatnya tidak ada. Allah itu Tuhan dan tiada tuhan selain-Nya.

Allah berfiman,

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلا اللَّهُ لَفَسَدَتَا

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (QS. Al-Anbiya’: 22).

Adapun perkataan Syekh, “Allah adalah sesuatu yang paling dekat denganmu”, bermakna; ilmu Allah, pengaturan, dan kekuasaan-Nyalah yang dekat dengan hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman,

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaff: 16).

Adapun perkataan Syekh, “jika tidak ada Allah, maka segala sesuatu tidak akan ada”, bermakna; bahwa Allah ada terlebih dahulu, lalu dengan kehendak-Nya Ia menciptakan segala sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Adapun perkataan Syekh, “sungguh mengherankan bahwa sesuatu yang wujud / ada bisa muncul pada sesuatu yang tidak ada”, bermakna;        mustahil berkumpulnya dua hal (baca: alam dan Allah), karena keduanya memiliki sifat yang saling bertentangan.

Adapun perkataan Syekh, “bagaimana mungkin sesuatu yang bersifat baru ditetapkan pada sesuatu yang bersifat dahulu”, bermakna; bahwa alam -yang bersifat hadits (baru)- tidak mungkin menghijab Dzat Allah -yang bersifat qidam (dahulu)-.

Ibnu ‘Ibad mengatakan, “Syekh Ibnu ‘Athaillah sangat cerdik dalam mengungkapkan hikmah ini, sehingga mata hati dan telinga dapat menangkap maksudnya dengan jelas. Melalui hikmah-hikmah di atas, sesungguhnya pengarang ingin menghilangkan segala hijab yang menutupi mata hatimu dari melihat Allah dan memperlihatkan keberadaan Allah kepadamu dengan sangat nyata.

Syekh bermaksud membawamu dari maqam iman menuju maqam ihsan yang tertinggi. Semuanya diungkapkan dengan kalimat yang singkat, padat, dan jelas. Apabila kitab ini hanya berisi hikmah ini saja, maka ini sudahlah cukup menjadi pegangan bagi seorang hamba yang ingin menempuh perjalanan menuju Allah”.

Syekh Abdul Majid As-Syarnubi Al-Azhari, syarhu kitaabil hikam

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: