Tahukah Anda, 3 Macam Sujud dalam Shalat Dan Bagaimana Caranya ?

Tahukah Anda, 3 Macam Sujud dalam Shalat Dan Bagaimana Caranya ?. Teknis dan tata cara sujud pada dasarnya hanya satu bentuk, yakni posisi pantat dan pinggul lebih tinggi dari pada kepala, tetapi nama dan status hukumnya bisa berbeda-beda karena penyebabnya juga berbeda. Secara terperinci, jumlahnya hanya ada empat yaitu: sujud di dalam rukun shalat, sujud sahwi, sujud tilawah, dan sujud syukur.

Pada pembahasan tentang shalat telah dijelaskan bagaimana sujud di dalam shalat, maka langsung saja kita membahas:

  1. Sujud sahwi

Adalah sujud yang disunahkan karena seorang mushalli (orang yang shalat) lupa atau ragu telah mengerjakan atau tidak mengerjakan hal-hal tertentu di dalam shalat, baik sengaja maupun tidak.

Dasar kesunahan sujud sahwi adalah sabda nabi Muhammad SAW, tatkala kalian ragu di dalam shalatmu apakah telah melakukan tiga atau empat rekaat, maka buanglah keraguan itu dan lanjutkanlah shalat yang pasti adanya (yaitu tiga rekaat), dan sujudlah dua kali di waktu kalian duduk tasyahud akhir.

Penyebab sujud sahwi

Penyebab sujud sahwi dapat dirangkum menjadi tiga bagian:

  1. Meninggalkan salah satu sunah ab’adh atau ragu dalam hal itu

Sunah ab’adh di dalam shalat ada tujuh:

  • Qunut shalat subuh atau shalat witir pada pertengahan kedua bulan ramadhan
  • Membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan sahabat di dalam doa qunut
  • Berdiri, selama kadar waktu cukup untuk membaca qunut, (bagi yang tidak mmpu membacanya)
  • Membaca tasyahud awal
  • Shalawat kepada nabi di dalam tasyahud awal
  • Shalawat kepada keluarga nabi di dalam tasyahud akhir
  • Duduk selama waktu ynag cukup untuk membaca tasyahud, (bagi yang tidak mampu membacanya)
  1. Lupa atau ragu dalam melakukan hal-hal yang bisa membatalkan shalat bila disengaja

Contoh, bicara sedikit di dalam shalat dan menambah gerakan, baik berupa pekerjaan shalat atau bukan.

  1. Ragu-ragu dalam melakukan suatu rukun fi’li (yanng berupa perbuatan)

Contoh, ragu apakah dia telah melakukan 3 rekaat atau 4 rekaat, selama masih ada keraguan di hatinya wajib baginya untuk menambah satu rekaat lagi dan disunahkan melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Teknis dan tata cara sujud sahwi

Waktu pelaksanaan sujud sahwi adalah setelah tasyahud akhir menjelang salam. Sedangkan teknis pelaksanaannya sama persis dengan sujud dalam shalat, baik dalam syarat-syarat, jumlah yang dikerjakan (yakni dua kali), maupun doa. Namun manurut mayoritas ulama doa yang dianjurkan dalam sujud sahwi adalah,

سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَسْهُوْ

Maha suci Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.

Dan doa yang dibaca ketika duduk diantara dua sujud adalah,

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّي

  1. Sujud tilawah

Adalah sujud yang dianjurkan ketika mushalli membaca atau memperdengarkan ayat sajdah (ayat ayat di dalam Al-Qur’an yang disunahkan untuk melakukan sujud tilawah, setelah membacanya). Dasar hukumnya adalah hadits Rasulullah SAW, dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami, ketika beliau telah selesai membaca ayat sajdah beliau takbir lalu bersujud, dan kami pun ikut sujud bersamanya.

Orang yan disunahkan untuk melakukan sujud tilawah:

  • Orang yang membaca ayat sajdah, baik di dalam atau di luar shalat
  • Orang yang mendengarkan ayat sajdah baik sengaja mendengarkan atau tidak, baik pembacanya itu melakukan sujud tilawah atau tidak

Bagi imam atau munfarid (orang yang shalat sendirian) tidak boleh melakukan sujud tilawah ketika mendengar ayat sajdah yang dibaca orang lain. Mereka hanya boleh melakukan sujud tilawah jika mereka sendiri yang membaca ayat sajdah, sedangkan bagi makmum hanya boleh melakukan sujud tilawah jika bersamaan dengan imamnya.

Syarat-syarat sujud tilawah:

  • Suci dari hadas dan najis baik badan, pakaian, dan tempat.
  • Menutup aurat
  • Menghadap kiblat
  • Telah benar-benar sempurna dalam membaca atau mendengar ayat sajdah

Rukun-rukun sujud tilawah:

  • Niat melakukan sujud tilawah disertai dengan takbir pembuka sambil mengangkat tangan, lafadznya:

نَوَيْتُ سَجْدَةَ التِّلاَوَةِ لِلهِ تَعَالَى

Saya niat mekakukan sujud tilawah karena Allah

  • Takbir untuk sujud tanpa mengangkat kedua tangan. Adapun bacaan ketika melakukan sujud:

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرُهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، اللَّهُمَّ اكْتُبْنِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِى عِنْدَكَ دُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدْ عَلَيْهِ السَّلاَم

Tubuhku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya, membentuknya, memberinya pendengaran dan penglihatan dengan daya dan kekuatan-Nya. Ya Allah, dengan bacaan ini catatkan pahala untukku di sisi-Mu, jadikan sebagai simpananku d sisi-Mu, hapuskan dosa-dosaku, dan terimalah ini dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud AS.

  • Bangun dari sujud, sambil takbir tanpa mengangkat kedua tangan
  • Salam
  1. Sujud syukur

Adalah sujud yang sunah dilaksanakan karena seseorang baru mendapatkan nikmat yang banyak atau yang tak terduga. Dasar hukum sujud syukur adalah hadis nabi Muhammd SAW, bahwa Rasulullah SAW jika datang padanya suatu hal yang menggembirakan, beliau melakukan sujud syukur.

Sebab-sebab disunahkannya sujud syukur:

  • Mendapatkan kenikmatan
  • Terhindar dari bahaya dan bencana
  • Melihat orang yang tertimpa musibah tertentu
  • Melihat orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan

Teknis pelaksanaannya

Adapun teknis pelaksanannya sama dengan sujud tilawah. Sedangkan bacaan yang dibaca ketika sujud syukur:

اللَّهُمَّ اكْتُبْنِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِى عِنْدَكَ دُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبَلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدْ عَلَيْهِ السَّلاَم

Ya Allah dengan bacaan ini catatkanlah pahala untukku di sisi-Mu, jadikanlah sebagai simpananku di sisi-Mu, hapuskan dosa-dosaku, dan terimalah bacaan ini sebagaimana engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud AS.

Fiqih ibadah/ Moh. Halimi/ lajnah Ta’liif Wan Nasyr PP. Al-Falah Kediri

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: