Belajar Berlatih Untuk Menghargai Orang Lain

Belajar Berlatih Untuk Menghargai Orang Lain. Hampir setiap orang merasa bahwa dirinya benar, benar dalam segala hal, baik perkataan, perbuatan, pikiran, dan ibadahnya. Dan sebaliknya orang lain ia anggap salah. Hal itu terjadi karena ia masih terhijab oleh nafsunya.

Nafsu yang dibantu oleh setan terus-menerus berusaha agar manusia mengagung-agungkan dirinya karena ketampanan, kepandaian, harta, dan jabatannya.

Orang yang tidak membiasakan dirinya untuk selalu dekat dengan Allah akan mudah tergoda oleh ajakan hawa nafsu. Ia akan terbuai dengan segala tipuan-tipuan duniawi yang fana itu.

Karena banyaknya hijab yang menutupi hatinya ia tidak mampu melihat dirinya yang sesungguhnya. Hakikat hamba yang hina, fakir, lemah, dan selalu butuh kepada selainnya. Semua itu tidak bisa ia temukan di dalam hati yang terhijab, sehingga yang ia rasakan adalah hal-hal sebaliknya, yaitu ia merasa mulia, terhormat, kaya raya, mampu, dan berkuasa.

Itulah sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh Tuhan, bukan hamba. Padahal Allah akan murka apabila sifat-sifat-Nya itu dpakai oleh hamba-Nya. Di dalam hadis qudsi Allah berfirman,

“keagungan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, barangsiapa yang mengambil salah satunya, maka Aku akan melemparkannya ke neraka”.

Begitu dahsyat ancaman Allah bagi orang yang mengagung-agungkan dirinya sendiri.

Allah tidak melarang engkau pandai, berharta, memiliki jabatan tinggi, dan berkuasa, tetapi ingatlah bahwa semua itu anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Kepandaian harus dimanfaatkan untuk memandaikan orang-orang yang masih bodoh, kekayaan harus digunakan untuk mengkayakan orang-orang miskin, jabatan harus digunakan untuk menolong orang-orang yang tak berjabat, dan kekuasaan harus memberikan kemanfaatan bagi orang-orang yang tak berkuasa. Apabila hal ini dilakukan maka ia telah menjadi hamba yang bersyukur.

Apa yang sering kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari tentang prilaku buruk dari orang-orang yang berharta dan berkuasa dapat kita jadikan pelajaran bahwa sifat tamak kepada dunia harus kita tinggalkan jauh-jauh. Kita harus selalu ingat bahwa dunia adalah sarana yang akan menjadikan kita abadi, dan bukan keabadian itu.

Apakah manusia tidak berfikir jika ada kehidupan abadi setelah kehidupan ini, kehidupan yang harus menjadi tujuan hidup orang-orang yang telah dikaruniai Allah dengan akal dan hati yang sehat. Semoga Allah segera membuka hijab hati kita, sehingga kita akan senantiasa melihat keburukan-keburukan kita sendiri hingga kita tidak sempat lagi melihat keburukan orang lain. Dan melihat nikmat-nikmat Allah yang sangat banyak, hingga kita tidak lagi tamak kepada yang fana.

Amiin ya Rabbal Alamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: