Segala Pujian Dan Kekuasaan Hanya Milik Allah Swt (Tafsir Surah Al-Faatihah Ayat 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai di hari Pembalasan. (QS. Al-Faatihah: 1-4)

Dengan surat Al-Fatihah ayat satu sampai empat di atas, Allah ingin mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara memuji dan mengagungkan Allah Swt. Allah memerintahkan kepada mereka dengan firman-Nya, katakanlah ‘الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ’ yang mengandung pujian yang bagus yang hanya dimiliki oleh Dzat yang Mahaagung dan Mahamulia. Tidak ada selain-Nya yang berhak untuk menyandang pujian bagus ini. Karena pada hakikatnya tidak ada pemberi rezeki dan penyebab kenikmatan kecuali Allah Swt.

Allah berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl: 53).

Semua pujian hanya milik Allah swt. Allah Swt telah tepuji sejak zaman azali, zaman ketika belum ada makhluk. Dan ketika Allah telah menciptakan makhluk, Ia memerintahkan mereka agar memuji-Nya dengan pujian yang telah ada sejak zaman azali, yaitu, الْحَمْدُ لِلَّهِ

Hanya Allah yang berhak menyandang pujian ini, karena Ia adalah رَبِّ الْعَالَمِينَ . Seolah-olah seseorang bertanya kepada Allah, “mengapa hanya Engkau yang memiliki pujian yang bagus itu?”, Allah berkata, “karena Aku adalah Tuhan semesta alam. Aku mewujudkan alam semesta dengan rahmat-Ku, Aku melimpahkan rezeki kepada seluruh makhluk dengan kenikmatan-Ku, tidak ada sang pemberi nikmat kecuali Aku, sehingga hanya Aku yang berhak memiliki pujian itu. Seluruh alam semesta dan segala macam isinya berada dalam kekuasaan dan pengawasan-Ku”.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah Swt. menciptakan 18.000 alam, setengahnya berada di darat, sementara setengah yang lain berada di laut. Imam Fakhrur Razi berkata, “diriwayatkan bahwa jumlah seluruh manusia 1/10 (sepersepuluh) dari jumlah jin, jumlah keseluruhan jin dan manusia 1/10 nya jumlah binatang darat, dan keseluruhan manusia, jin, dan binatang darat adalah 1/10 dari jumlah burung. Lalu jumlah semua manusia, jin, binatang darat, dan burung adalah 1/10 dari jumlah binatang laut. Jumlah kesemuanya itu 1/10 dari jumlah malaikat-malaikat penjaga manusia yang ada di bumi, seluruh malaikat-malaikat bumi berjumlah 1/10 dari jumlah malaikat-malaikat yang berada di langit yang pertama, jumlah malaikat yang ada di langit pertama 1/10 dari jumlah malaikat yang berada di langit kedua, kemudian begitu seterusnya sampai langit yang ketujuh. Lalu jumlah seluruh malaikat yang ada di semua langit dan yang ada di bumi adalah sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah malaikat yang memikul Kursi, lalu kesemuanya berjumlah 1/10 dari jumlah satu lingkar malaikat yang mengelilingi Arsy. Jumlah lingkaran malaikat yang mengelilingi Arsy ada 100.000 lingkaran, dimana jarak antara lingkaran yang satu dengan lingkaran yang lain sangatlah jauh, lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi. Dan jumlah malaikat yang berada di 100.000 lingkaran itu adalah jumlah yang sangat sedikit -ibarat setetes dari luasnya lautan- apabila dibandingkan dengan malaikat-malaikat yang mengangkat ‘Arsy Allah Swt”.

Allah berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلا هُوَ

Tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (QS. Al-Muddatsir: 31).

Setelah Allah menciptakan manusia dan jin, Allah mengutus para rasul dan nabi yang bertujuan untuk mendidik mereka. Dan pendidikan Allah adalah bentuk rahmat, kasih sayang, dan kebaikan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya, dan bukan kewajiban yang harus dilakukan oleh-Nya. Oleh karena itu Allah mengatakan, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, maksudnya Allah Maha Ar-Rahmaan dengan nikmat penciptaan-Nya, dan Allah Maha Ar-Rahiim dengan sifat pemberian nikmat dan kerunia-Nya. Dua kenikmatan, dimana setiap makhluk membutuhkannya, yaitu ni’matul iijaad (nikmat dijadikan) dan ni’matul imdaad (nikmat diberi rezeki, agar keberadaan tetap lestari).

Atau juga bisa dikatakan bahwa Allah Maha Ar-Rahmaan di dunia dan akhirat, dan Maha Ar-Rahiim di akhirat, karena rahmat Allah di akhirat hanya khusus bagi orang-orang yang beriman. Atau bisa juga dikatakan bahwa Allah Maha Ar-Rahman dengan nikmat-nikmat-Nya yang besar, dan Allah Maha Ar-Rahiim dengan nikmat-nikmat yang kecil. Nikmat yang besar itu seperti: nikmat Islam, Iman, Ihsan, makrifat, terbukanya hijab, dan hidayah. Adapun nikmat yang kecil seperti: nikmat sehat, harta yang halal, dll.

Dan yang mampu menjadikan dan yang mampu memberi rezeki dan kenikmatan yang pantas menyandang gelar raja. Oleh karena itu Allah menyebut diri-Nya, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ , maksudnya Allah berhak melakukan apa saja atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa menolak keputusan Allah, dan tidak ada yang mencegah atas keinginan-Nya. Dialah rajanya semua raja, penguasa seluruh penguasa, di dunia dan di akhirat.

Ibnu Ajibah, Al-Bahrul Madiid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: